<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.0.5" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>celoteh</title>
	<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh</link>
	<description>karena celoteh kemarin adalah untuk hari ini dan esok</description>
	<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:22:40 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (2)</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Mari kita lanjutkan acara kebut2an.
Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis ITP (Institutional Test Program), alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, saya sudah daftar TOEFL di UPT Bahasa ITB.
Pada hari yang ditentukan, sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">M</span>ari kita lanjutkan acara <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278">kebut2an</a>.</p>
<p>Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis <a href="http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.1488512ecfd5b8849a77b13bc3921509/?vgnextoid=ebe32d3631df4010VgnVCM10000022f95190RCRD&#038;vgnextchannel=fe117f95494f4010VgnVCM10000022f95190RCRD">ITP</a> (<em>Institutional Test Program)</em>, alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278">sebelumnya</a>, saya sudah daftar TOEFL di <a href="http://www.lc.itb.ac.id/">UPT Bahasa ITB</a>.</p>
<p>Pada hari yang ditentukan, sekitar akhir Februari, saya menjalani test TOEFL tersebut. Benar2 tanpa persiapan, karena entah kenapa, malam sebelumnya saya malaaaaaas banget belajar. Jangan ditiru ya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Dan jangan dikira perjalanan kali ini bebas kebut2an loh.. Saya berangkat rada mepet dari kantor, dan berakibat pensil 2B saya ketinggalan! Ampun Nyaaahh!!!!!</p>
<p><a id="more-279"></a><br />
Jadi saya setengah lari2 dari tempat saya memarkir Neng Desi di pinggiran masjid Salman, ke kantin seberang lapangan basket untuk beli pensil. Lalu lari2 ke Labtek VIII, sekedar untuk tahu ruang tesnya. Lari2 lagi ke <em>basement</em> tempat diselenggarakannya tes. Dengan <em>high heels</em> ya, catat, <em>secara</em> saya memang jarang banget nggak pakai <em>high heels</em>. Alhamdulillaah, walaupun keringatan dan kaki pegal (tapi belum berhasil bikin saya kurusan) saya masih bisa menjalani tes dengan baik. Bahkan saat dua minggu kemudian hasilnya keluar, alhamdulillaah skor saya lumayan banget.</p>
<p><strong>Tes Potensi Akademik (TPA)</strong></p>
<p>Kali ini nggak pakai ngebut dong ah! Cape kaliii, ngebut mulu!</p>
<p>Jadi seminggu sebelum tes, saya beli buku contoh soal TPA di toko buku dekat rumah. Malam sebelum  berangkat ke Jakarta, saya dengan tertib berlatih mengerjakan soal. Nggak lama2 sih, sekitar 2 jam doang, untuk mengetahui <em>big picture</em> tesnya kira2 seperti apa. Besoknya saya pulang kantor lebih cepat, lalu  naik <a href="http://www.cititrans.co.id/">travel</a> ke Jakarta.</p>
<p>Tes Potensi Akademik adalah semacam tes <a href="http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.fab2360b1645a1de9b3a0779f1751509/?vgnextoid=b195e3b5f64f4010VgnVCM10000022f95190RCRD">Graduate Record Examination</a> (GRE) versi Indonesia. Terdiri dari empat bagian besar yang harus dikerjakan selama kira2 3 jam, yaitu <strong>verbal (bahasa), numerik (angka), logika, dan spasial(gambar)</strong>. Menurut saya sih nggak yang susaaaaah banget gitu, TAPI soalnya banyaaaaaaaaaaakkkkkk banget. Asli. Jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bisa mengerjakan semua soal, karena sepertinya hampir nggak ada orang yang bisa mengerjakan semua soal kecuali yang jenius atau menghitung kancing.</p>
<p>Yang berhak mengadakan TPA ini adalah OTO (<em>Overseas Training Office</em>) <a href="http://pusbindiklatren.bappenas.go.id">Bappenas</a>. Jadi semua penyelenggara TPA, misalnya panitia seleksi S2 di universitas2, selalu bekerja sama dengan OTO Bappenas ini. Kita bisa saja ikut TPA di manapun, karena selama penyelenggaranya bekerja sama dengan Bappenas, pasti skornya diakui sebagai skor TPA yang sah. Informasi tentang jadwal TPA bisa didapat di  021-3911627. Waktu itu saya ikut di kelas jauh <a href="http://www.mmugm.ac.id/index.php?Itemid=143&#038;id=38&#038;option=com_content&#038;task=view">MM UGM</a> di Jakarta, biayanya sekitar 350 ribu rupiah. </p>
<p><strong>Dan hasilnya&#8230;</strong></p>
<p>Singkat kata, dua minggu kemudian saya sudah punya skor TOEFL dan TPA seperti yang disyaratkan Depkominfo. Lumayan banget ternyata, daripada lumanyuuuun.. Hasil2 tes segera saya fotokopi dan kirimkan ke panitia beasiswa. Seingat saya hari itu hari Selasa. Perkiraan saya sih Kamis tentunya panitia sudah menerima berkas2 tersebut. </p>
<p>Jumat jam lima sore, saya mendapat email undangan untuk wawancara di Depkominfo tanggal 2 April. Yang artinya saya sudah lolos seleksi tahap pertama. Jreng jreng!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=279</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (1)</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 10:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan saya menuju beasiswa Depkominfo ini nggak terlalu panjang. Tapi sumpah, penuh liku yang bikin jantung deg2an. Semua serba mendadak dan mepet. Lho, memangnya saya nggak siap2 dari jauh2 hari? Jawabnya tentu saja: nggak  . 
(Kids, don&#8217;t try this at home. Pengalaman saya yang ini bukan untuk ditiru. Bagaimanapun, persiapan yang matang sejak jauh2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">P</span>erjalanan saya menuju <a href="http://www.depkominfo.go.id/program/hasil-seleksi-beasiswa-s2s3-ln/">beasiswa</a> Depkominfo ini nggak terlalu panjang. Tapi sumpah, penuh liku yang bikin jantung deg2an. Semua serba mendadak dan mepet. Lho, memangnya saya nggak siap2 dari jauh2 hari? Jawabnya tentu saja: nggak <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . </p>
<p>(<em>Kids, don&#8217;t try this at home.</em> Pengalaman saya yang ini <strong>bukan untuk ditiru</strong>. Bagaimanapun, persiapan yang matang sejak jauh2 hari selalu lebih baik.)</p>
<p>Sebenarnya saya senang sekolah. Bukan berarti nggak senang kerja. Tapi yang jelas, saya nggak seperti sebagian teman2 yang sekolah ke jenjang <em>postgraduate</em> karena terpaksa. Awal tahun 2008 saya sempat kepikiran untuk sekolah lagi, lalu <em>browsing</em> berbagai situs beasiswa. Sayangnya niat itu kepentok alasan khas ibu2: nanti Naila gimana?</p>
<p><a id="more-278"></a><br />
Saya ingat betul, salah satu beasiswa yang menarik minat saya adalah beasiswa luar negeri dari <a href="http://www.depkominfo.go.id">Departemen Komunikasi dan Informatika</a> (Depkominfo). Diberikan untuk kuliah S2 dan S3 di universitas2 yang telah ditetapkan di negara2: Inggris, Belanda, Perancis, Swedia dan Australia. Bidang studi yang diambil harus sesuai dengan misi dan lingkup Depkominfo, seperti hukum (<em>cyber</em> atau telekomunikasi), <em>e-commerce</em>, ilmu komunikasi, teknik elektro/telekomunikasi, atau teknik informatika. Seru kan?</p>
<p>Dasar saya phlegmatis sejati yang perlu dipecut2, waktu itu saya nggak berani <em>apply</em>. Ralat, <em>apply</em>-nya sih berani dan mau2 aja. Tapi saya nggak berani membayangkan konsekuensinya <strong>kalau</strong> diterima. <em>Expect the best, prepare for the worst</em>. Yang mana saya rada nggak jelas juga, dapat beasiswa S2 ke luar negeri meninggalkan keluarga itu <em>the best</em> atau <em>the worst</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span class="first">S</span>etahun berlalu begitu saja, sampai pada suatu hari di <strong>pertengahan Februari 2009</strong>, saya ditelpon oleh atasan. </p>
<p><strong>Boss (B)</strong>: <em>Yanti, ini ada beasiswa S2, berminat nggak?</em></p>
<p><strong>Yanti (Y)</strong>: S2 di mana Pak?</p>
<p><strong>B</strong>: <em>Hmm.. ITB mungkin ya? Eh sebentar saya liat dulu&#8230; (jeda sebentar) Oh ini ke luar negeri, ini banyak nih pilihan universitasnya.. Ada Inggris, Belanda, Australia&#8230; Gimana, mau ya?</em></p>
<p><strong>Y</strong>: Wah, saya boleh pikir2 dulu Pak?</p>
<p><strong>B</strong>: <em>Ya silakan dipikirkan.. Tapi saya berharap Yanti mau. Ini dari Depkominfo, diutamakan yang di bawah 35 tahun. Sementara dari perusahaan kita mensyaratkan, harus sudah bekerja 5 tahun dan belum pernah sekolah S2. Kayaknya cuma Yanti yang masuk kriteria itu.</em></p>
<p><strong>Y</strong>: Iya Pak. Saya bicarakan dulu di rumah ya Pak&#8230;</p>
<p>Sebenarnya saya masih punya pilihan untuk menolak ya? <em>But knowing my family</em>, saat itu saya berani taruhan bahwa mereka pasti akan mendorong saya untuk ikut proses seleksi beasiswa. Mirip seperti waktu tahun 2004 saya ke India 2 bulan lamanya, meninggalkan Naila yang masih bayi. Atau waktu saya tugas setahun lebih di Gandul, dan cuma pulang setiap akhir minggu mengunjungi Naila yang berumur 2-3 tahun. Tapi kan ini sekolah, minimal setahun dan nggak bisa sering2 pulang! Apalagi Abang nggak bisa dapat <em>unpaid leave</em> dari kantornya. Hanya pergi berdua dengan Naila, sepertinya juga kurang realistis. Keluarga khawatir, saya nggak fokus kuliah dan Naila juga nggak keurus. </p>
<p>Tapi toh seperti diduga, saya akhirnya mendapat lampu hijau untuk mendaftar beasiswa, dengan resiko diterima <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Syaratnya, saat liburan panjang saya pulang, dan kalau bisa cari program master yang cuma setahun. </p>
<p><span class="first">B</span>esoknya saat membaca dokumen2 beasiswa tersebut, saya kaget. Ternyata <em>deadline</em> aplikasi beasiswa tanggal 18 Februari. Yang artinya, ketika itu saya tinggal punya waktu <strong>satu</strong> hari saja. Aduh, kenapa Pak Boss kemarin nggak bilang apa2 ya? Bayangkan, saya harus:</p>
<ol>
<li>Mengisi formulir aplikasi yang berlembar2 itu, berikut menjawab beberapa pertanyaan esai yang ada di dalamnya.</li>
<li>Melampirkan pasfoto,  yang saya juga sudah nggak punya.</li>
<li>Punya nilai <a href="http://www.ets.org/toefl/">TOEFL</a> di atas 550. Paling lama diikuti 2 tahun yang lalu, padahal saya terakhir ikut TOEFL sebelum ke India tahun 2004.</li>
<li>Punya nilai Tes Potensi Akademik (TPA) yang diselenggarakan oleh <a href="http://pusbindiklatren.bappenas.go.id/">Bappenas</a>, yang mana saya belum pernah ikut sama sekali <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</li>
</ol>
<p>Karena sepekan itu saya sedang <em>training</em> di luar kantor, terpaksa saya bolos sehari untuk mengurus semua itu. Pagi2 saya ke studio foto, bikin foto langsung jadi beberapa buah. Setelah itu ke kantor. Telepon sana sini, saya dapat jadwal tes TOEFL berikutnya ada di <a href="http://www.lc.itb.ac.id/">ITB</a> minggu depannya, dan jadwal TPA yang akan diselenggarakan Bappenas baru ada dua minggu kemudian di kelas jauh <a href="http://www.mmugm.ac.id/index.php?Itemid=143&#038;id=38&#038;option=com_content&#038;task=view">MM UGM</a> di Jakarta. Padahal, masih ingat kan, <em>deadline</em> aplikasi beasiswanya besok!</p>
<p>Rada <em>desperate</em>, saya ke lantai delapan. Minta ngobrol2 dengan Manajer HRD yang langsung mengompori saya: <em>&#8220;Pokoknya kalo belum sampe mampus bener, jangan berhenti, Yan! Masukkan aplikasi besok, hasil2 tesnya disusulkan aja. Siapa tahu bisa. Kalau sudah rejeki kamu, nggak akan ke mana deh!&#8221;</em></p>
<p>Hmm, okei Buuuuu&#8230;Jadilah siang itu saya habiskan untuk &#8220;mengarang bebas&#8221; menjawab esai: tentang motivasi studi, latar belakang memilih pekerjaan/profesi saat ini, hubungan program studi yang dituju dengan pekerjaan saat ini, manfaat studi untuk negara Indonesia, rencana jangka panjang, dan mengapa saya merasa layak untuk mendapatkan beasiswa ini. Lebih dari 500 kata bahasa Indonesia ternyata bisa berhamburan dari ujung bolpen saya. Dalam keadaan kepepet tentunya, sehingga terus terang saya nggak sempat berpikir panjang. </p>
<p>Saya juga menyuruh <em>office boy</em> untuk memfotokopi ijasah dan akte kelahiran yang pagi itu saya bawa dari rumah, lalu beli materei. Setelah itu saya ngebut seperti supir angkot ke ITB, daftar TOEFL, dan ngebut lagi kembali ke kantor. Sementara itu, Bu Manajer HRD tercinta mengusahakan surat rekomendasi dari direksi keluar sore itu.</p>
<p><span class="first">E</span>soknya, tanggal 18, saya lagi2 bolos <em>training</em> (<em>ndilalah</em> gurunya sakit!). Naik kereta paling pagi ke Jakarta, dijemput di Gambir oleh Abang yang hari itu ijin masuk siang (<em>so sweet</em> deh..). Saya ke MM UGM di Gondangdia, daftar TPA, lalu ke Depkominfo di Medan Merdeka untuk menyerahkan aplikasi. Saya sempat bertanya, apakah masih memungkinkan menyusulkan nilai TOEFL dan TPA. Kata seorang petugas di sana, selama seleksi belum dilakukan ya masih bisa. Artinya saya masih punya harapan. Walaupun jujur saja, waktu itu saya sudah nggak berharap apa2, dan menjalani semuanya hanya untuk menyenangkan Bu Manajer HRD dan si Mamah yang sepertinya lebih bersemangat daripada saya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Setelah nyicip <a href="http://www.pancious.com/">Pancious Pancake</a> di Pacific Place (teuteuuup yaa.. makan nomer satu!), saya ke <em>pool</em> <a href="http://www.cititrans.co.id/">Cititrans</a> di SCBD dan pulang ke Bandung. Capek. Saat menulis dan mengingat2 semua saja saya capek. Kalau kamu capek bacanya, saya juga bisa maklum. Jadi lanjutannya kapan2 ya&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=278</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>masih jauh untuk menjadi kartini</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=277</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=277#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 04:06:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>ilham</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, 21 April 2009, diadakan sebuah acara memperingati Hari Kartini di kantor saya. Walaupun terutama diikuti oleh ibu2, seperti layaknya acara sejenis di tempat lain, peringatan Hari Kartini kali ini cukup menginspirasi saya.
Pagi2 saya sudah mendapat kejutan. Tepatnya bukan cuma saya, tapi seluruh karyawan tetap berjenis kelamin perempuan. Sebuah bingkisan menunggu dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">B</span>eberapa hari yang lalu, 21 April 2009, diadakan sebuah acara memperingati Hari Kartini di kantor saya. Walaupun terutama diikuti oleh ibu2, seperti layaknya acara sejenis di tempat lain, peringatan Hari Kartini kali ini cukup menginspirasi saya.</p>
<p>Pagi2 saya sudah mendapat kejutan. Tepatnya bukan cuma saya, tapi seluruh karyawan tetap berjenis kelamin perempuan. Sebuah bingkisan menunggu dengan manis di meja saya. Ternyata isinya buku <a href="http://www.quantumikhlas.com/">Quantum Ikhlas</a> karya <b>Erbe Sentanu</b>, hadiah dari Direktur SDM dan Umum yang kebetulan juga seorang perempuan.</p>
<p>Rangkaian acara kemudian diawali dengan kunjungan ke sebuah sekolah dasar di sebelah kantor, yang kebetulan juga merupakan binaan perusahaan. Di sana kami membuat semacam acara kuis kecil2an yang berhadiah alat tulis. Di tiap kelas, acara dipandu oleh seorang istri direktur atau <i>senior leaders</i> dan seorang karyawati. Saya kebagian mendampingi istri Direktur Operasi untuk masuk ke kelas empat. </p>
<p>Lomba yang diadakan hanya satu, yaitu lomba menulis tentang <b>&#8220;Makna Hari Kartini di Mata Pria&#8221;</b>. Serunya tentu karena embel2 &#8220;di mata pria&#8221; itu, dan pesertanya hanya para laki2: karyawan dan suami karyawati. Sayangnya pesertanya nggak terlalu banyak. Entah karena kesibukan, atau mungkin karena memang kebiasaan menulis belum terlalu membudaya di kalangan (calon) pesertanya.</p>
<p><a id="more-277"></a><br />
Walaupun acaranya mungkin nggak seberapa besar, rasanya arah perayaan Hari Kartini kali ini sudah tepat. Kartini bukan semata baju daerah atau lomba memasak. Kartini adalah pendidikan, khususnya untuk perempuan. Kartini adalah perjuangan, walaupun beliau punya keterbatasan dalam mengimplementasikan ide2nya. Salut dan terima kasih untuk panitia!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span class="first">P</span>uncak acaranya adalah sebuah diskusi panel dengan tiga orang Kartini masa kini. Yang pertama adalah Ibu <a href="http://air.bappenas.go.id/doc/pdf/kliping/Ipah%20Datipah%20dan%20Pemanfaatan%20Limbah%20Susu.pdf">Ipah Datipah</a>, pengusaha UKM yang awalnya memproduksi permen karamel karena desakan ekonomi. Beliau nggak pernah merasakan pendidikan formal dalam pengelolaan bisnis, dalam pemasaran, produksi, logistik atau keuangan. Tapi kini Ibu Ipah malah mampu berbagi rejeki dengan memiliki lebih dari 50 karyawan yang masing2 diberinya gaji di atas satu juta rupiah. Luar biasa kan?</p>
<p>Yang kedua adalah Ibu <a href="http://odapus.multiply.com/journal/item/38">Dian Syarief</a>, penderita <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Systemic_lupus_erythematosus">lupus</a> yang kemudian mendirikan <a href="http://www.syamsidhuhafoundation.org">Syamsi Dhuha Foundation</a>, sebuah yayasan untuk membantu para penderita lupus dan <em>low vision</em>. Selain  mengadakan pendampingan terhadap penderita, yayasan ini juga memberikan edukasi tentang penyakit tersebut dan menyediakan fasilitas kesehatan bagi masyarakat, juga pelatihan2 dalam berbagai bidang ilmu dan ketrampilan.</p>
<p>Yang ketiga adalah salah seorang <em>woman leader</em> dalam dunia telekomunikasi dan informasi. Namanya Ibu <a href="http://www.alita-indonesia.com/read.php?cat=17&#038;gid=18">Ita Yuliati</a>. Sosok yang nggak asing dengan perusahaan tempat saya bekerja, karena Ibu Ita pun ternyata mengawali karir telekomunikasinya di perusahaan ini, pada tahun 1983-1989. Berawal dari sebuah perusahan dengan dua karyawan, yaitu Ibu Ita sendiri selaku direktur dan seorang <em>office boy</em>, saat ini <a href="http://www.alita-indonesia.com">Alita Grup</a> telah memiliki <a href="http://www.alita-indonesia.com/read.php?cat=17&#038;gid=21">sebelas</a> anak perusahaan yang berkiprah sampai ke mancanegara. Perempuan mungil, cantik dan modis ini membuat saya semakin yakin bahwa <em>caring about fashion and beauty doesn&#8217;t make me (us) less intelectual</em>. Nggak perlu tampil serampangan atau malah kelaki2an untuk mengesankan ketangguhan dan bisa berhasil dalam bidang yang didominasi laki2.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span class="first">M</span>elihat ketiga Kartini tadi, saya merasa sangat malu. Sepertinya masih jauh bagi saya untuk menjadi seorang Kartini modern. Mungkin orang akan membantah, &#8220;<em>Look at you</em>, Neng! Punya pendidikan cukup tinggi dan bisa bekerja kantoran dengan karir yang cukup menjanjikan. Itu kan yang dicita2kan Kartini?&#8221;</p>
<p>Bukan, menurut saya bukan itu. Kartini ingin agar perempuan menjadi berdaya, menjadi manusia yang punya nilai yang sama dengan laki. Itu yang diistilahkan dengan <b>setara, bukan sama</b>. <em>Equal is not equal</em>. Pendidikan setinggi2nya, walaupun bukan di jenjang formal, buat saya adalah hak sekaligus kewajiban. Bekerja dan punya penghasilan, itu sih pilihan, hasil kompromi saya dengan keluarga terdekat. Karena kebebasan yang saya punya, sama juga dengan kebebasan yang dimiliki suami saya. Yaitu kebebasan untuk ikut bersuara dalam setiap diskusi untuk kebaikan kami sekeluarga. Nggak lagi seperti pada jaman Kartini di mana pendapatnya tak boleh terdengar, apalagi yang agak berbeda dengan pendapat suami dan/atau ayahnya.</p>
<p>Bukan itu yang membuat saya malu. Saya malu melihat betapa ketiga Ibu tadi bisa begitu bermanfaat bagi orang lain. Padahal Ibu Ipah cuma lulusan Sekolah Rakyat. Padahal Ibu Dian punya penyakit, telah belasan kali dioperasi, dan pengelihatannya tinggal 5%. Sementara saya pernah sekolah sampai ke jenjang standar anak muda jaman sekarang. Saya juga alhamdulillaah sehat secara fisik, selain kadar kolesterol yang kadang iseng loncat ke atas batas 200 mg/ml, dan walaupun secara mental saya menderita penyakit garing kronis. Saya juga punya lingkungan yang mendukung untuk berbagai aktivitas. Ibu Kartini yang terpingit di dalam rumahnya saja mampu menuliskan ide2nya hingga menggoncang jaman, walaupun masih minim implementasi. <b><em>She was a blogger without Wordpress.</em></b> Sementara saya yang bisa ke mana saja dengan jeng D351, apa kontribusi saya untuk sesama?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span class="first">N</span>ggak perlulah menjadi eksekutif sebuah kelompok usaha seperti Ibu Ita, yang menaungi ratusan karyawan dan menafkahi ribuan mulut di belakangnya. Lihat saja kondisi dan posisi saya sekarang. Apakah saya sudah memanfaatkan waktu dan kemampuan saya secara maksimal? Apakah saya sudah menjalankan apa yang menjadi tugas saya secara maksimal? Sepertinya saya belum bermanfaat banyak buat keluarga, selain mungkin bisa membelikan Naila sepatu dengan hasil <em>nangkring</em> di depan laptop delapan jam seharinya. Apakah Naila sudah merasa puas dan bahagia dengan kehadiran dan bimbingan saya dalam waktu yang terbatas selama ini? Buat orang tua yang sudah membesarkan saya, apalagi, rasanya masih nihil yang saya berikan.</p>
<p><a href="http://www.passionoutloud.com/">Rene Suhardono</a> pernah memberikan pertanyaan yang menohok dalam sebuah siarannya di Hardrock FM, &#8220;Apa yang sudah Hardrockers berikan untuk perusahaan sehingga kita layak digaji sekian?&#8221; Bukannya minder atau merendah, tapi saya sampai sekarang masih kesulitan menjawabnya. Apalagi untuk skala yang lebih besar seperti untuk masyarakat, bangsa atau agama. Sepertinya saya belum memberikan apa2.</p>
<p><em>I still procrastinate a lot</em>: main Farm Frenzy, facebook-an, browsing nggak jelas, rajin ngemol, nyalon, dan ngemil2 sambil dengar lagu atau baca fiksi2 seru. Sepertinya saya masih jauh untuk menjadi seorang Kartini. Mungkin terdengar ambisius, tapi boleh kan saya bercita2 untuk semakin dekat?
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=277</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>masuk koran :)</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=276</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=276#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 16:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah. Singkatnya, tulisan liburan akhir tahun di Sumatera Barat dimuat di koran Seputar Indonesia edisi nasional hari Sabtu, 14 Februari 2009 lalu. Terima kasih Sindo!
Kata Naila, &#8220;Kok aku bisa masuk koran?&#8221;  
 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah. Singkatnya, <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271">tulisan</a> liburan akhir tahun di Sumatera Barat dimuat di koran <a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/213229/">Seputar Indonesia</a> edisi nasional hari Sabtu, 14 Februari 2009 lalu. Terima kasih <a href="http://www.seputar-indonesia.com">Sindo</a>!</p>
<p>Kata Naila, <em>&#8220;Kok aku bisa masuk koran?&#8221;</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://farm4.static.flickr.com/3275/3285173382_4534fb54fe_o.jpg" title="sindo_minang1 by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3275/3285173382_6d4ac93f08_t.jpg" width="100" height="82" alt="sindo_minang1" /></a> <a href="http://farm4.static.flickr.com/3484/3285173384_0c2ae8a9b4_o.jpg" title="sindo_minang2 by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3484/3285173384_c8ac4fa10f_t.jpg" width="100" height="82" alt="sindo_minang2" /></a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=276</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>canting: tentang budaya yang tersisih dan semangat pembaruan</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=275</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=275#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 01:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>resensi</category>

		<category>buku</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[ Canting oleh Arswendo Atmowiloto
Resensi seperti sudah pernah saya tulis di sini.
 dari 5 bintang
Buat saya, seorang Jawa yang tinggal di &#8216;negeri tetangga&#8217;, membaca Canting seperti belajar budaya leluhur. Banyak hal saya dapatkan dari buku ini, tentang bagaimana orang Jawa itu, setidaknya pada generasi di atas saya, dan ke atas2nya lagi.
Canting berkisah tentang dua generasi: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.goodreads.com/book/show/2090345.Canting?utm_medium=api&amp;utm_source=blog_review" style="float: left; padding-right: 20px"><img alt="Canting" border="0" src="http://photo.goodreads.com/books/1210561934m/2090345.jpg" /></a> <a href="http://www.goodreads.com/book/show/2090345.Canting?utm_medium=api&#038;utm_source=blog_review">Canting</a> oleh <a href="http://www.goodreads.com/author/show/495195.Arswendo_Atmowiloto">Arswendo Atmowiloto</a></p>
<p>Resensi seperti sudah pernah saya tulis di <a href="http://www.goodreads.com/review/show/41942990?utm_medium=api&#038;utm_source=blog_review">sini</a>.</p>
<p><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="star" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="star" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="star" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="star" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="star" /> dari 5 bintang</p>
<p>Buat saya, seorang Jawa yang tinggal di &#8216;negeri tetangga&#8217;, membaca Canting seperti belajar budaya leluhur. Banyak hal saya dapatkan dari buku ini, tentang bagaimana orang Jawa itu, setidaknya pada generasi di atas saya, dan ke atas2nya lagi.</p>
<p><strong>Canting</strong> berkisah tentang dua generasi: Pak Bei alias <strong>Ngabehi Sestrokusuma</strong>, pemilik usaha batik merk Canting, dan putri bungsunya <strong>Ni</strong> alias Subandini Dewiputri Sestrokusuma. Keduanya punya semangat pemberontak, tapi implementasinya tentu berbeda2 sesuai jamannya masing2.</p>
<p><a id="more-275"></a><br />
Di awal buku dikisahkan tentang Pak Bei yang sangat feodal. Apa2 selalu dilayani oleh istri dan pegawai2nya. <strong>Bu Bei</strong> yang ternyata bekas buruh batik itu benar2 menyiapkan segala sesuatunya untuk Pak Bei, mulai dari air hangat untuk mandi, sampai menjual batik di Pasar Klewer. Sudah begitu, Pak Bei tinggal menikmati hidup, pergi bersosialisasi dengan teman2nya sesama priyayi, dan &#8220;tirakatan&#8221; Jumat Kliwon yang kadang diwarnai dengan judi dan perempuan. Belum lagi kesenjangan strata sosial antara priyayi dan buruh yang nggak terbayangkan pada jaman sekarang.</p>
<p>Bu Bei-lah sesungguhnya yang motor penggerak keluarga sekaligus motor penggerak usaha. Menjadi manajer produksi merangkap manajer pemasaran, juga manajer keuangan dan manajer sumber daya manusia. Saya jadi ingat gurauan Pakde saya saat peluncuran <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.goodreads.com/book/show/4894196.Aku_dan_Bedah_Saraf_Indonesia">bukunya</a> awal tahun lalu. Kata Pakde saya, selaku priyayi Solo, beliau memang kerjanya menekuni hobi, yaitu  membongkar pasang otak (maklum, dokter bedah saraf <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> ). Cari duit itu urusan duniawi, urusan istri. </p>
<p>Sungguhpun kesan pertama saya tentang Pak Bei kurang begitu baik, ternyata seiring berjalannya kisah, banyak hal2 baru yang saya ketahui darinya. Ternyata dibalik kegiatannya yang agak nggak jelas itu, Pak Bei sangat mengikuti berita terkini: mulai dari politik seputar Bung Karno dan nekolim, sampai urusan seni drama. Pemikiran2 Pak Bei pun banyak yang nggak lazim, bahkan progresif untuk jaman tahun 60-an itu. Walaupun tentunya, semua baru sebatas wacana, pandangan, belum sampai kepada sebuah pergerakan yang nyata. Modernitas Pak Bei masih berpadu kental dengan filosofi2 Jawanya.</p>
<p>Bagian berikutnya adalah giliran Ni menjadi lakon. Ni adalah satu2nya anak Pak Bei yang namanya menggunakan Sestrokusuma, karena konon Pak Bei sempat meragukan apakah Ni benar2 anaknya. Ni adalah satu2nya anak Pak Bei yang hidupnya nggak mengikuti pakem anak priyayi Jawa: <em>manut2</em> orang tua, dan pasti akan hidup enak. Ni adalah satu2nya anak Pak Bei yang mau mengurusi usaha batik Canting yang sudah tergusur  batik <em>printing</em>.</p>
<p>Plot kisahnya mungkin cenderung standar. Tapi muatan dialog2nya, terutama antara Pak Bei dan Ni, benar2 kaya akan perenungan. Bagaimana Pak Bei menjelaskan bahwa orang Jawa itu memang hakikatnya pasrah, tapi sekaligus menyemangati Ni untuk menjadi pembuka pintu perubahan. </p>
<p>Pada bagian akhir cerita, banyak hal dari masa lalu yang kemudian terungkap. Kelam, diselesaikan dengan tak adil menurut kacamata orang luar, namun dengan penuh pertimbangan oleh Pak Bei. Pak Bei pun menunjukkan bagaimana seorang priyayi di masa tuanya nggak hanya sekedar menjadi menara gading yang tak tersentuh, tapi juga menjadi mercu suar yang menerangi sekitarnya. </p>
<p>Akhir cerita memang terasa agak terburu2. Seperti ada yang tiba2 memencet tombol <em>Fast Forward</em> pada <em>tape recorder</em>. Tapi mungkin 20 halaman terakhir buku ini bisa dianggap sebagai sebuah epilog. Sekedar untuk menggambarkan kepada pembaca, bagaimana kira2 kelanjutan nasib keluarga Sestrokusuma. Karena kekuatan cerita ini memang bukan pada alurnya. <em>Ending</em>-nya bagaimana, bukan suatu hal yang penting lagi. Karena Canting sudah memperkaya pembacanya sejak awal.</p>
<p><a href="http://www.goodreads.com/review/list/1393377-Dharwiyanti?utm_medium=api&#038;utm_source=blog_review">Lihat semua resensi saya.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=275</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;operasi&#8221; mata</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=274</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=274#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 11:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Hari Rabu tanggal 21 Naila mengeluh silau, dan sejak Jumat mata kirinya agak merah dan sedikit bengkak. Kadang mengeluh perih. Untungnya tanggal 24 masih bisa manggung di Istana Plaza. Akhirnya Sabtu malam Bunda membawa Naila ke klinik mata Netra. 
Setelah diperiksa oleh dr.Sutarya, ternyata sakit matanya bukan sakit mata biasa. Ada partikel asing masuk ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">H</span>ari Rabu tanggal 21 Naila mengeluh silau, dan sejak Jumat mata kirinya agak merah dan sedikit bengkak. Kadang mengeluh perih. Untungnya tanggal 24 masih bisa <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=273">manggung</a> di Istana Plaza. Akhirnya Sabtu malam Bunda membawa Naila ke klinik mata <a href="http://www.netra-klinik.co.id">Netra</a>. </p>
<p>Setelah diperiksa oleh <strong>dr.Sutarya</strong>, ternyata sakit matanya bukan sakit mata biasa. Ada partikel asing masuk ke mata Naila, kemungkinan sih pasir karena Naila suka sekali main pasir di sekolah. Karena si partikel ini menempel di kornea mata, jadi harus ada tindakan medis untuk mengambilnya. Sebetulnya pada orang dewasa, tindakan bisa dilakukan saat itu juga. Tapi pada anak2 jadi rumit, karena seringkali anaknya nggak kooperatif saat matanya dipegang2 dokter. Salah2 bisa luka korneanya. Maka dari itu, anak harus dibius total. </p>
<p>Naila: <i>&#8220;Dibius itu diapain?&#8221;</i><br />
<br />Bunda: <em>&#8220;Dibikin tidur, jadi Naila nggak ngerasa apa2 waktu kotoran di mata itu diambil&#8221;</em><br />
<br />Naila: <em>&#8220;Diambilnya gimana? Sereeeeeeem!!! Aku takut ah!&#8221;</em><br />
<br />Bunda: <em>&#8220;Kan dibius, jadi nggak terasa. Nggak usah takut, nanti dibiusnya disuntik. Sakit sedikit seperti waktu imunisasi itu, okey?&#8221;</em><br />
<br />Naila manggut2.</p>
<p><a id="more-274"></a><br />
Karena Minggu dan Senin nggak ada dokter jaga di klinik itu, kita ditawari untuk melakukannya di <a href="http://www.cicendoeyehospital.org/">RS Mata Cicendo</a>. Atau kalau mau di klinik Netra, harus hari Selasa. Sempat konsultasi dengan <a href="http://nita.goblogmedia.com">Nita</a> yang Gaga-nya pernah harus <a href="http://nita.goblogmedia.com/mata-gaga.html">operasi mata</a> di Netra juga. Akhirnya kita memutuskan untuk menunda sampai Selasa, kecuali kalau kondisinya memburuk, ya langsung ke Cicendo.</p>
<p><span class="first">S</span>elasa siang, 27 Januari, Naila harus puasa sejak jam 9 pagi. Karena Naila mendengar sendiri semua yang dikatakan dokter, dia bisa mengerti kenapa harus puasa. <i>&#8220;Biar nggak mual waktu dibius ya Bunda?&#8221;</i> Walau begitu ya sempat juga menangis minta susu, dan coba tebak bagaimana cara mengalihkan perhatiannya? Diajak belanja, hehehe.. &#8220;Mini Bunda&#8221; ini minta baju <i>princess</i> untuk ulang tahunnya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Dari Riau Junction (beli baju <em>princess</em> lah <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ) kita buru2 ke klinik. Di sana sempat dijelaskan tentang prosedur pembiusan oleh dokter anesthesinya, <strong>Dr. Dedi</strong>. Jam 13:15 Naila disuntik sambil dipeluk Bunda di sofa ruang tunggu. Sempat nangis juga sih <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . </p>
<p>Begitu jatuh tertidur, Naila langsung digendong Ayah ke kamar operasi. Karena ruang operasinya kecil dan sudah penuh dengan dokter mata (<strong>dr.Dewi Trini</strong>), dr.Dedi dan beberapa perawat, Ayah &#038; Bunda menunggu di luar. Baru Bunda mau mengambil majalah di ruang tunggu, eh dokternya sudah keluar sambil menunjukkan kotoran yg masuk ke mata Naila selama ini. Lalu kita menunggu sampai Naila sadar. </p>
<p>Sekitar jam 14:30 Naila sudah sadar, tapi masih pusing. Jam 15:00 kita pulang, sambil dipesan dr.Dedi untuk nyetirnya pelan2 agar Naila nggak mual. Wah, kalau nyetir pelan sih mending serahkan pada Ayah aja. Bundanya lebih brutal sih, hehe.. Kebetulan klinik mata Netra itu cuma 15 menitan dari rumah.</p>
<p>Nah yang lama ngilangin pusingnya ini. Kira2 sejam lamanya Naila mengeluh pusing dan minta kepalanya dikompres air hangat. Suhu badannya juga naik sedikit. Tapi setelah itu alhamdulillaah sudah normal lagi. Jam 16:00 dia udah boleh minum, jam 17:00 boleh makan <em>snack</em> dan jam 18:00 boleh makan besar. Walaupun belum terlalu lahap, Naila bisa makan tanpa rasa mual.</p>
<p>Alhamdulillaah, Naila senang sekali matanya sudah nggak perih lagi. Untuk semua yang sudah mendoakan, baik lewat percakapan langsung, SMS, forum, <i>Facebook</i>, terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan berlipat ganda.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=274</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>panggung imlek di istana plaza</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=273</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=273#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 11:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka hari raya Imlek, TK Taruna Bakti diundang ke Istana Plaza tanggal 24 Januari 2009 lalu. Saat itu Naila kebagian menyanyi solo, karena prestasinya menjadi salah satu juara harapan pada lomba di Batununggal Desember lalu. Sulit dipercaya, Naila yang sehari2nya pemalu, ternyata tampil percaya diri di panggung.
Selain itu juga Naila bersama2 teman sekelasnya mementaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3262/3224887981_5fac537b5f_m.jpg" alt="Si Kancil" /></span>Dalam rangka hari raya Imlek, TK Taruna Bakti diundang ke <strong>Istana Plaza</strong> tanggal 24 Januari 2009 lalu. Saat itu Naila kebagian menyanyi solo, karena prestasinya menjadi salah satu juara harapan pada <a href="http://www.youtube.com/watch?v=sA22Ux9Oyjk">lomba</a> di Batununggal Desember lalu. Sulit dipercaya, Naila yang sehari2nya pemalu, ternyata tampil percaya diri di panggung.</p>
<p>Selain itu juga Naila bersama2 teman sekelasnya mementaskan <strong>Tari Boneka</strong>. Kocak deh, kostumnya kaos dengan celana pendek atau rok pendek, lalu kaos kaki panjang yang beda kiri-kanan. Setelah itu, kepala, pinggang dan lengan dipasangi balon2. </p>
<p><a id="more-273"></a><br />
Dasar anak2, nggak bisa diam: lari2an, peluk2an, guling2an. Malah yang melihat yang takut balonnya pecah. Belum juga manggung, beberapa anak sudah mengeluh balon di pinggangnya kempes <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . </p>
<p>Tarinya sih seru dan lucu. Tuh lihat saja, Naila yang nomor tiga dari kanan, dengan balon hijau di kepala. Semangat bergerak, seperti biasa.</p>
<p><object width="425" height="344">
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/HW2csuWYR0I&#038;hl=en&#038;fs=1"></param>
<param name="allowFullScreen" value="true"></param>
<param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/HW2csuWYR0I&#038;hl=en&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=273</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>buku harian nanny</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=272</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=272#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 09:04:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>resensi</category>

		<category>buku</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[ Judul: Buku Harian Nanny (The Nanny Diaries) Penulis: Emma McLaughlin
  
My review

  Rating:  of 5 starsDitulis oleh dua orang mantan pengasuh anak (nanny) di New York, Buku Harian Nanny menjadi bukan sekedar ciklit biasa. Mengutip band Efek Rumah Kaca, buku ini bukan tentang &#8220;Cinta Melulu&#8221;. Bukan tentang sekedar keluh kesah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.goodreads.com/book/show/2862208.Buku_Harian_Nanny?utm_medium=api&amp;utm_source=blog_review" style="float: left; padding-right: 20px"><img alt="Buku Harian Nanny (The Nanny Diaries)" border="0" src="http://photo.goodreads.com/books/1203483682m/2862208.jpg" /></a> Judul: <a href="http://www.goodreads.com/book/show/2862208.Buku_Harian_Nanny?utm_medium=api&#038;utm_source=blog_review">Buku Harian Nanny (The Nanny Diaries)</a><br /> Penulis: <a href="http://www.goodreads.com/author/show/9222.Emma_McLaughlin">Emma McLaughlin</a></p>
<p>  <a href="http://www.goodreads.com/review/show/43086078?utm_medium=api&#038;utm_source=blog_review"><br />
<h3>My review</h3>
<p></a><br />
  Rating: <img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="null" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="null" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="null" /> of 5 stars<br />Ditulis oleh dua orang mantan pengasuh anak (<em>nanny</em>) di New York, Buku Harian Nanny menjadi bukan sekedar ciklit biasa. Mengutip band Efek Rumah Kaca, buku ini bukan tentang &#8220;Cinta Melulu&#8221;. Bukan tentang sekedar keluh kesah seorang perempuan yang sibuk mencari kekasih.</p>
<p><strong>Nanny</strong>, seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu menjadi seorang <em>nanny</em> pada sebuah keluarga <strong>X</strong> yang termasuk warga elit New York. <em>Overworked, underpaid</em>. Betapa tidak, Nanny ternyata nggak hanya mengurusi <strong>Grayer</strong> yang berumur 4 tahun, tapi juga menjadi asisten Mrs.X.</p>
<p>Anak selucu dan secerdas Grayer ternyata harus mengalami nasib yang menyedihkan. Jadwal kegiatan yang ketat dan sejumlah aturan tak masuk akal lainnya. Kasih sayang orang tua yang hanya ditunjukkan lewat materi dan sekolah mahal. Ayah yang berselingkuh. Dan Ibu yang nggak bekerja, tapi tetap nggak pernah punya waktu untuknya.</p>
<p>Huhuhu, saya jadi membandingkan Naila (5 tahun) dengan Grayer, Bibi pengasuhnya dengan Nanny, dan diri saya sendiri dengan Mrs.X. Sepertinya, dan semoga saja, Naila masih jauh lebih beruntung daripada Grayer. Saya memang bekerja di luar rumah, tapi saat saya ada di rumah, toh saya selalu ada untuknya. Bibi yang kebetulan nggak menginap di rumah, semoga nggak merasa dibayar terlalu sedikit untuk pekerjaan yang terlalu banyak. </p>
<p>Di tengah kisruh rumah tangga X, situasi semakin nggak menguntungkan untuk Grayer, dan juga untuk Nanny. Tapi semakin sulit bagi Nanny untuk meninggalkan Grayer dalam kondisi seperti ini. Sayangnya dia seperti nggak punya nyali untuk memperjuangkan nasibnya, dan tentu juga nasib Grayer. Padahal pada usianya yang baru awal 20-an, biasanya darah muda masih berkobar, seperti kata Bang Haji Rhoma kan?</p>
<p>Akhir cerita ini masih menggantung, tapi masih <em>acceptable</em> buat saya. Mengharukan yang jelas, karena nasib Grayer ke depannya pun masih tanda tanya. Yang bikin bete, kok Nanny nggak jadi ngasih rekaman marah2-nya kepada Mrs.X. Padahal saya aja emosi..</p>
<p><a href="http://www.goodreads.com/review/list/1393377-Dharwiyanti?utm_medium=api&#038;utm_source=blog_review">View all my reviews.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=272</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>liburan akhir tahun di Ranah Minang</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 06:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<category>perjalanan</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[*tarik nafas panjang dulu sebelum membaca, bakal ngos2an karena panjang banget!*
Sejak nikah dengan Abang yang berdarah Minangkabau, saya selalu tertarik untuk mengunjungi Sumatera Barat. Nggak adanya kewajiban mudik ke sana karena mertua di Jakarta, membuat keinginan ini baru tercapai akhir tahun 2008 lalu.
Awal Oktober, setelah libur Lebaran, kita mulai merencanakan perjalanan ini. Tiket pesawat PP, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*tarik nafas panjang dulu sebelum membaca, bakal ngos2an karena panjang banget!*</p>
<p><span class="first">S</span>ejak nikah dengan Abang yang berdarah Minangkabau, saya selalu tertarik untuk mengunjungi Sumatera Barat. Nggak adanya kewajiban mudik ke sana karena mertua di Jakarta, membuat keinginan ini baru tercapai akhir tahun 2008 lalu.</p>
<p>Awal Oktober, setelah libur Lebaran, kita mulai merencanakan perjalanan ini. Tiket pesawat PP, hotel2, sewa mobil, semua sudah dipesan sejak jauh2 hari. Cenderung berhati2 memang, mengingat ini perjalanan terjauh yang pernah kita tempuh bersama <strong>Naila</strong>. Rute2 perjalanan yang kita rencanakan pun selalu <a href="http://hildafarha.blogspot.com/2008/05/7-rahasia-kesuksesan-bepergian-dengan.html">mempertimbangkan</a> kemampuan dan minatnya. <em>Trekking</em>, jalan yang terlalu jauh, dan petualangan2 yang menantang harus dibuang dari agenda kali ini.</p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162629854/" title="turis mode ON by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3129/3162629854_cafeede9bc_m.jpg" width="240" height="180" alt="turis mode ON" align="absmiddle" /></a>&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162631188/" title="Pesawatku by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3265/3162631188_32065e4c31_m.jpg" width="180" height="240" alt="Pesawatku" align="absmiddle"  /></a></p>
<h3><strong>Kecamatan berhitung</strong></h3>
<p>Kita mendarat di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minangkabau_International_Airport">Bandara Internasional Minangkabau</a>, Kabupaten Padang Pariaman, pada hari Jumat siang dengan menggunakan maskapai <a href="http://mandalaair.com">Mandala</a>. Bukan perjalanan yang mudah, karena harus duduk terpisah dari Abang, sementara Naila yang baru pertama kali terbang dengan pesawat jadi rewel karena sumbatan di telinganya (<a href="http://adnanabdullah.blogspot.com/2008/11/barotrauma.html">barotrauma</a>.</p>
<p><a id="more-271"></a><br />
Di bandara kita sudah dijemput supir mobil sewaan kita, <strong>Pak Edi</strong>. Dengan mobil Suzuki APVnya, kita mampir sebentar ke kota Padang memberikan oleh2 untuk seorang teman, lalu langsung menuju ke arah Bukittinggi. </p>
<p>Di nagari (desa) <font color="#ff8000"><strong>Pasar Usang</strong></font>, Kecamatan Batang Anai, kita berhenti untuk makan siang. Kebetulan ada rumah makan yang terletak di sebelah masjid besar, sehingga para laki2 bisa shalat Jumat. Di tukang gorengan depan rumah makan saya menemukan bayi kepiting yang digoreng dengan tepung bumbu. Renyah banget!</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162140068/" title="Air terjun Lembah Anai by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3265/3162140068_be9b231050_m.jpg" width="180" height="240" alt="Air terjun Lembah Anai" /></a></span>Nama2 kecamatan di Sumatera Barat ternyata cukup unik karena banyak menggunakan angka. Sebut saja &#8220;4 Koto Aur Malintang&#8221;, &#8220;7 Koto Sungai Sarik&#8221;, dan yang paling unik adalah daerah asal kakeknya Abang, Kecamatan <font color="#ff8000"><strong>2 x 11 Enam Lingkung</strong></font>. Kata Abang, orang Minang selalu berhitung karena punya bakat dagang <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Sekitar setengah jam perjalanan selepas istirahat, pemandangan berubah drastis. Dari sawah dan kebun yang cenderung datar, tiba2 bukit dan hutan menyambut. Kita ternyata sudah nggak jauh dari <font color="#ff8000"><strong>Lembah Anai</strong></font>. Air terjun Lembah Anai terletak di sebelah kiri jalan yang membelah Bukit Barisan itu. Sementara di sebelah kanan mengalir sungai Batang Anai yang berbatu2 besar, cantik sekali. Kita nggak lama singgah di sana, karena Naila ogah kecipratan air.</p>
<p>Perjalanan menuju kota <font color="#ff8000"><strong>Padangpanjang</strong></font> memukau saya. Rel kereta api yang dibuat Belanda memang sudah tak digunakan lagi, tapi jembatan2nya tetap terawat. Dicat oranye sangat kontras dengan hijau hutan di  belakangnya. Lima belas menit sampailah kita di Padangpanjang, kota terbesar di Kabupaten Tanah Datar yang berkontur naik turun di lereng Gunung Singgalang dan Gunung Marapi ini. Bangunan2 megah beratap <em>bagonjong</em> bertebaran di kota yang bersih ini. Komentar Naila, <em>&#8220;Di sini kok rumah2nya bertanduk sih!&#8221;</em>.</p>
<h3><strong>Meninjau Maninjau di Puncak Lawang</strong></h3>
<p>Antara Padangpanjang dan Bukittinggi ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Di Padangpanjang ada <font color="#ff8000"><strong>Sate Padang Mak Syukur</strong></font> yang juga membuka cabang di Jakarta. Lalu para penjual kue <font color="#ff8000"><strong>bika</strong></font> (semacam serabi, dari tepung beras dan kelapa) di nagari Koto Baru, Kecamatan Sapuluh Koto. Nggak jauh dari sana terdapat persimpangan ke kiri, ke arah nagari <font color="#ff8000"><strong>Pandai Sikek</strong></font> yang terkenal dengan songket benang emas dan sulam tangannya. Tapi karena terbatasnya waktu agar bisa melihat Danau Maninjau sebelum gelap, terpaksa tempat2 ini kita lewatkan.</p>
<p>Di nagari Padang Luar, Pak Edi membelokkan mobil ke kiri, menuju Maninjau. Jalannya hanya pas untuk dua mobil, tapi pemandangannya indah dan udaranya segar. Kita melalui beberapa desa kecil sebelum akhirnya sampai di Matur. Di sini terdapat persimpangan, lurus melalui Embun Pagi dan <font color="#ff8000"><strong>Kelok 44</strong></font> ke Maninjau, sedangkan jalur ke kanan yang kita ambil, menuju <font color="#ff8000"><strong>Puncak Lawang</strong></font>. </p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161797273/" title="di tepi jalan menuju Maninjau by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3256/3161797273_f2743889cd_m.jpg" width="240" height="180" alt="di tepi jalan menuju Maninjau" /></a>&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161826599/" title="Lagi, dari Puncak Lawang by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3128/3161826599_583a55cf4c_m.jpg" width="240" height="180" alt="Lagi, dari Puncak Lawang" /></a></p>
<p>Jalan ke Puncak Lawang lebih kecil, tapi sudah teraspal. Makin mendekati Puncak Lawang terdapat perkebunan tebu dan industri kecil pembuatan gula. Agak aneh buat saya, karena di Pulau Jawa perkebunan tebu biasanya terletak di dataran rendah. </p>
<p>Puncak Lawang adalah puncak tertinggi perbukitan di tepi timur Danau Maninjau. Dari ketinggian 900 m pandangan ke arah Danau Maninjau sangat jelas dan bersih. Di antara bukit2 di sisi barat tampak mengintip lepas pantai utara Pariaman.</p>
<h3><strong>Jam Gadang di waktu malam</strong></h3>
<p>Dari Puncak Lawang kita langsung menuju ke Bukittinggi. Waktu sudah tidak mengijinkan kita turun ke tepi Maninjau melalui Kelok 44 yang terkenal itu.<br />
Kali ini Pak Edi mengajak kita melewati jalan di dasar <font color="#ff8000"><strong>Ngarai Sianok</strong></font> untuk kemudian muncul di Jalan Panorama, kota Bukittinggi. Lagi2 jalan yang kita lewati ini sempit, menanjak-menurun, dan penuh tikungan tajam. Benar2 bukan rute untuk yang langganan mabuk darat! Saya juga baru tahu bahwa di dasar Ngarai Sianok terdapat beberapa desa, yang bahkan dilalui rute angkot.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161826885/" title="Jam Gadang di waktu malam by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3110/3161826885_9fec696e89_m.jpg" width="240" height="192" alt="Jam Gadang di waktu malam" /></a></span>Kita menginap di <font color="#ff8000"><strong>Hotel Yuriko</strong></font>. Kamarnya lumayan, kelas hotel melati, tapi letaknya sangat strategis karena hanya berjarak 300 meter dari Jam Gadang yang merupakan pusat kota Bukittinggi. Musim liburan ini, Bukittinggi benar2 menjadi kota turis: hotel2 penuh, <em>backpackers</em> berkeliaran, dan berbagai dialek dari Malaysia hingga Jakarta terdengar di mana2.</p>
<p>Setelah mandi dan beristirahat sebentar, kita memutuskan mencari makan di seputar <font color="#ff8000"><strong>Jam Gadang</strong></font>. Ternyata taman di sekitarnya sangat ramai malam itu. Banyak pedagang mainan, kacang, juga jasa lukis wajah seperti di Malioboro. Naila senang sekali melihat mainan piring terbang yang bisa menyala, sehingga kita cukup lama juga berada di sana.</p>
<p>Rencananya kita mau makan di Simpang Raya. Memang sih, di seputar Jakarta – Bandung pun rumah makan ini punya banyak cabang. Tapi lokasinya strategis, dan masih lebih baik daripada makan di rumah makan Rindu Alam cabang Puncak toh? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' />  Rencana tinggal rencana, karena Naila mengaku tidak lapar saat diajak masuk Simpang Raya. Beberapa langkah dari sana, di depan KFC, Naila dengan mata berbinar2 berkata, <em>”Nah kalo di sini aku lapar!”</em> Ya sudah, ayam pop jatah buat besok saja deh.</p>
<h3><strong>Dari ngarai hingga sanjai</strong></h3>
<p>Pagi ini Naila bangun agak siang, mungkin karena semalam tidurnya terganggu serangan asma. Untung bawa nebulizer kecil. </p>
<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162661306/" title="Ngarai Sianok dilihat dari Taman Panorama, Bukittinggi by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3111/3162661306_cf45454d54_m.jpg" width="240" height="180" alt="Ngarai Sianok dilihat dari Taman Panorama, Bukittinggi" /></a></span>Berbelanja di kota Bukittinggi adalah tujuan pertama. Di <font color="#ff8000"><strong>Pasar Atas</strong></font> kita beli bahan baju dan selendang bersulam tangan khas Bukittinggi untuk oleh2, serta kerajinan <em>crochet</em>  berupa taplak meja dan sarung bantal.</p>
<p>Masih untuk oleh2, kita mampir di <font color="#ff8000"><strong>Sanjai Nitta</strong></font> di jalan raya ke arah Padang untuk membeli berbagai makanan khas. Yang banyak ditawarkan di sini adalah keripik sanjai (singkong), dakak-dakak (sejenis keripik berbentuk kubus2 mungil berbumbu kunyit), dan berbagai jenis rendang kering dari daerah Payakumbuh.</p>
<p>Urusan belanja selesai, perjalanan dilanjutkan ke arah Payakumbuh sambil melalui beberapa tempat dalam kota Bukittinggi. Kita bertiga mengunjungi <font color="#ff8000"><strong>Taman Panorama</strong></font> untuk melihat Ngarai Sianok dari atas, setelah kemarin sore melewati dasar ngarai yang dalamnya 100 meter ini. Sayangnya Naila merasa nggak nyaman dengan angin besar di sana, sehingga kita nggak bisa berlama2. Sementara menyusuri <font color="#ff8000"><strong>Goa Jepang</strong></font> yang dulunya markas rahasia penjajah Jepang di dinding ngarai, sejak awal memang nggak direncanakan. Mana mau dia <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Melintasi benteng Fort de Kock, lalu Pak Edi mengambil jalan utama Padang – Pekanbaru. Setengah jam dari Payakumbuh, ibukota Kabupaten Limapuluh Kota, kita sampai di <font color="#ff8000"><strong>Lembah Harau</strong></font>. Saat berdiri di dasar lembah, rasanya seperti <a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3165141241/">dibentengi</a> tebing2 cadas yang berdiri megah, tegak lurus di sekeliling. Menurut saya lembah ini nggak kalah menakjubkan dari Ngarai Sianok yang lebih terkenal itu. </p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162665764/" title="tebing di Harau by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3091/3162665764_c6628c49db_m.jpg" width="240" height="180" alt="tebing di Harau" align="absmiddle" /></a>&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162669272/" title="tirai air terjun Harau by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3102/3162669272_3bc4616dff_m.jpg" width="180" height="240" alt="tirai air terjun Harau" align="absmiddle" /></a></p>
<p>Setelah melalui hamparan sawah dan menyusuri jalan di tepi tebing, sampailah kita di air terjun yang juga terletak di tepi jalan raya. Kabarnya masih ada beberapa air terjun lain, tapi waktu nggak mengijinkan kita ke sana. Air terjun yang kita datangi ini nggak sederas air terjun Lembah Anai, tapi lebih lebar sehingga terlihat seperti tirai air yang cantik.</p>
<h3><strong>Sisa istana terbakar di Batusangkar</strong></h3>
<p>Puas di Harau, Pak Edi membawa kita kembali ke arah Payakumbuh, lalu membelok ke Batusangkar. Sepanjang jalan yang semakin menanjak, dataran rendah Payakumbuh terlihat sangat memukau. Tempat terindah untuk melihat pemandangan ini adalah di <font color="#ff8000"><strong>Tabek Patah</strong></font>, sekitar 16 km sebelum kota Batusangkar. Konon di sini dulunya terdapat sebuah kolam (<em>”tabek”</em>) yang kemudian patah menjadi dua bagian.</p>
<p>Nggak jauh dari sana, kita mencicipi teh dari daun murbei di tempat Pak <a href=http://www.pasarmuslim.com/kisahsukses.php?bid=160>Satria Budiman</a>. Sampai di Batusangkar sudah cukup siang, perut lapar, dan jam makan siang Naila sudah lama berlalu. Kita diajak Pak Edi ke <font color="#ff8000"><strong>Nasi Kapau Uni Gadih</strong></font>, di tepi jalan raya Batusangkar – Sawahlunto. Setelah minta digorengkan ayam yang nggak pedas khusus untuk Naila, kita makan di depan jendela yang menghadap ke sawah. Setelah makan dan shalat, kita melintasi kota Batusangkar menuju <font color="#ff8000"><strong>Istano Basa Pagaruyung</strong></font>, yang letaknya 5 km dari pusat kota. Abang yang pernah tinggal lima tahun di Batusangkar jadi sibuk bernostalgia melihat rumah dan SDnya dulu. </p>
<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162692916/" title="Istano Silindung Bulan, Batusangkar by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3099/3162692916_8d06218528_m.jpg" width="240" height="180" alt="Istano Silindung Bulan, Batusangkar" /></a></span>Awal tahun 2007 lalu, Istana Pagaruyung terbakar habis karena disambar petir. Walaupun sesungguhnya istana inipun merupakan replika dari istana aslinya di Bukit Batu Patah yang terbakar tahun 1804, tetap saja saya miris melihat bangunan bersejarah itu ludes tak bersisa. Namun melihat kegiatan pembangunan kembali istana, hati saya agak terhibur. Istana yang baru ini akan dibangun dengan fondasi dan rangka beton. Hanya dinding istanalah yang nantinya akan terbuat dari kayu berukir seperti aslinya.</p>
<p>Di sekitar Istano Basa Pagaruyung terdapat beberapa istana kecil yang masih terawat baik. Kita berhenti di <a href=http://www.paketrupiah.com/artikel/istana_silinduang_bulan,_ranah_minang_sesungguhnya.php>Istano Silindung Bulan</a> untuk berfoto. Di bagian dalamnya terdapat empat bilik (“kamar” tidur) yang dipisahkan dengan tirai. Di ruang utama diletakkan meja2 rendah tempat makan bersama. Dinding bagian dalamnya yang berwarna gelap sangat kontras dengan tirai dan bantal2 yang sebagian besar berwarna merah, kuning dan keemasan. Ah, saya malah jadi sedih membayangkan indahnya Istano Basa Pagaruyung yang tentunya lebih besar, lebih megah dan lebih indah itu. Siapa tahu saya berkesempatan mengunjunginya lagi beberapa tahun mendatang.</p>
<h3><strong>Tertawan badai di Sikuai</strong></h3>
<p>Di hari ketiga, pagi2 kita sudah berangkat dari Bukittinggi ke Padang. Setelah <em>early check-in</em> di <font color="#ff8000"><strong>Hotel Nuansa</strong></font> yang terletak di pinggir pantai, kita menuju <a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161876191/">Dermaga Wisata Bahari</a> di Muara untuk mengikuti <em>one-day trip</em> seharga 125 ribu rupiah ke <a href=http://newsikuaiisland.com>Pulau Sikuai</a>. Walaupun kapal baru berangkat pukul sepuluh pagi, sejak pukul 8.30 sudah banyak orang datang pada Minggu pagi itu.</p>
<p>Membawa Naila, kita memantau cuaca di situs <a href=http://www.bmg.go.id>BMG</a> dan cuaca setempat pagi itu. Cuaca buruk yang sering hadir di musim hujan dapat membuat pelayaran tidak menyenangkan karena ombak besar. Untungnya cuaca cerah pagi itu. Naila yang sempat takut, akhirnya mulai menikmati pelayaran selama satu jam lebih itu.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161876199/" title="Naila ala turis, di Sikuai by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3095/3161876199_167f4c389d_m.jpg" width="180" height="240" alt="Naila ala turis, di Sikuai" /></a></span>Pulau Sikuai sebetulnya terletak nggak jauh dari lepas pantai Bungus, selatan kota Padang. Namun karena kapal berangkat dari Muara di dalam kota Padang, kita harus berlayar menyusuri pantai, melewati Teluk Bayur, hingga sampai di pulau kecil ini. Pantainya berpasir putih, dipagari pohon2 kelapa berjajar rapi, dan air biru yang nyaris tanpa ombak karena diapit semenanjung dan pulau2 kecil lainnya. <em>Snorkeling</em> melihat ikan2 aneka warna atau sekedar berjalan kaki mengelilingi pulau juga dapat dilakukan di pulau yang hanya memiliki satu resort hotel ini.</p>
<p>Naila senang sekali bermain pasir di pantai, ditunggui Bundanya yang minum kelapa muda dan makan rujak buah. Benar2 seperti surga dunia. Sayangnya pihak pengelola tampak kurang siap dengan banyaknya pengunjung hari itu, sehingga makan siang baru siap jam dua siang.</p>
<p>Kegembiraan kita nggak berlangsung lama <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Jam setengah tiga tiba2 datang badai, disertai angin kencang, hujan deras, kabut tebal dan ombak tinggi. Manusia boleh berencana dan berhati2, tapi cuaca ternyata nggak bisa ditebak. Kapal yang sedianya kembali ke Padang jam empat sore terpaksa ditunda menunggu cuaca membaik. Ratusan orang menunggu di dalam restoran dan lobi hotel, sehingga bisa dibayangkan betapa <em>crowded</em>-nya suasana saat itu.</p>
<p>Jam 6 sore kapal diberangkatkan. Tapi jumlah penumpang yang saya perkirakan lebih dari 200 orang itu nggak dapat terangkut sekaligus. Nasib membuat kita termasuk dalam rombongan yang nggak terangkut dan harus menunggu kapal berikutnya. Saat saya merasa kecewa itulah, ternyata Tuhan bermaksud melindungi Naila dari pengalaman yang lebih buruk. Kapal yang diberangkatkan barusan, kembali ke Sikuai karena dihadang ombak yang bermeter2 tingginya. <em>”Penumpang pada menangis, Bu. Saya sempat trauma naik kapal”</em>, kisah <strong>Ibu Ruri</strong> yang pergi bersama suami, anak2 dan keluarga kakaknya.</p>
<p><span class="shadow"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3165979018/" title="Sikuai, heaven on earth by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3267/3165979018_0350aeb840.jpg" width="500" height="375" alt="Sikuai, heaven on earth" /></a></span></p>
<p>Badai menawan kita di Sikuai. Lagi2 pengelola hotel kurang tanggap menyiapkan penginapan darurat. Makan malam dengan menu yang sama seperti siangnya, nasi goreng, baru muncul jam sepuluh malam. Kita dan beberapa keluarga lain yang membawa anak kecil akhirnya membuat pos di <em>pub</em>. Panggungnya yang hangat kita gunakan untuk membaringkan anak2. Dialasi sarung untuk shalat Ayahnya dan berbantalkan tas Bundanya, alhamdulillaah Naila bisa tidur nyenyak.</p>
<p>Jam enam paginya kita kembali ke Padang. Lebih dari 150 orang dijejalkan dalam satu kapal kecil, agak mengabaikan faktor keselamatan sepertinya. Sisa2 badai semalam masih cukup terasa, laut belum setenang kemarin pagi saat kita berangkat. Alhamdulillaah, kita bertiga nggak mabuk laut seperti sebagian besar penumpang. Nggak terlalu banyak menggerakkan kepala, selalu mengamati dan bersiap akan datangnya ombak, dan mendapatkan udara segar adalah resep yang kita praktikkan.</p>
<h3><strong>Sampai jumpa, Ranah Minang!</strong></h3>
<p>Hotel yang sudah kita bayar untuk semalam, terpaksa hanya dapat kita manfaatkan beberapa jam saja. Mandi dan beristirahat di atas kasur empuk tentu saja sangat kita rindukan setelah tegang semalaman ditawan badai dan tidur2 ayam dengan tubuh melengkung.</p>
<p>Siangnya setelah puas beristirahat, kita makan siang di restoran <font color="#ff8000"><strong>Nelayan</strong></font> tak jauh dari hotel. Salah satu restoran <em>seafood</em> paling terkenal (dan cukup mahal) di Padang ini menyajikan berbagai jenis ikan, cumi2, kepiting dan udang ala masakan Cina. Bahan bakunya memang supersegar, sehingga walaupun bumbunya standar, masakan tetap terasa nikmat. </p>
<p>Karena penerbangan kita ditunda hingga lewat jam lima sore, kita memuat semua barang ke dalam bagasi taksi dan berkeliling kota Padang. Karena belum terlalu lapar, kita pergi ke toko cindera mata <font color="#ff8000"><strong>”Silungkang &#038; Pandai Sikek”</strong></font> di Jl.Sudirman. Seperti namanya, toko ini terutama menjual songket, sarung, bordir dan sulam dari Silungkang dan Pandai Sikek, juga Koto Gadang. Harganya hamper sama dengan di Pasar Atas Bukittinggi. </p>
<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162721200/" title="my brand new Silungkang songket by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3090/3162721200_c4f02ca239_m.jpg" width="240" height="180" alt="my brand new Silungkang songket" /></a></span>Penjualnya menjelaskan, songket Pandai Sikek memiliki ciri khas lebih banyak benang emas, dan otomatis harganya juga lebih mahal. Sementara songket Silungkang terlihat seperti sarung, yang memang merupakan tenun khas Silungkang, dengan ornamen benang emas yang nggak terlalu banyak. Songket Koto Gadang memiliki lebih sedikit lagi benang emas, dengan kain katun tenunan tangan berwarna gelap. Songket Pandai Sikek dihargai 1,3 juta sampai 3 juta rupiah, songket Silungkang mulai 500 ribu rupiah ke atas, dan songket Koto Gadang harganya mulai 350 ribu rupiah. Mahal? Memang sih, tapi di Jakarta bisa sampai 2 kali lipatnya.</p>
<p>Saya yang rada <em>fetish</em> <a href=http://jalankenangan.net/mereka.php>kain tradisional</a>, membeli songket Silungkang, tanpa rencana. Untung bisa <em>gesek</em> tanpa biaya tambahan <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Dan sebelum saya tambah kalap, kita menuju daerah Kampung Cina untuk makan es duren <font color="#ff8000"><strong>Ganti Nan Lamo”</strong></font>. Berbeda dengan es duren Sakinah khas Bandung, es duren Padang ini mirip es campur dengan saus durian yang kental dan sedikit susu kental manis coklat. Rasanya? Luar biasa.</p>
<p>Akhirnya saatnya tiba bagi kita untuk menuju ke Bandara Minangkabau. Saya berjanji dalam hati, akan kembali kemari. Masih banyak tujuan wisata kuliner yang belum dicicipi, seperti Gulai Itiak Kedai Ngarai, Gulai Ikan Pauh Piaman, atau Sate Padang Mak Syukur. Saya ingin singgah di Singkarak, Danau Kembar dan menyusuri bekas tambang batubara di Sawahlunto. Dan siapa tahu, saat itu Istano Basa Pagaruyung sudah selesai dipugar.</p>
<p>Selamat tinggal, Ranah Minang. Sampai jumpa lagi!</p>
<p>*eh, kamu belum ketiduran kan bacanya?*
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=271</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>apa kabar resolusi (tahun lalu)-mu?</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=270</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=270#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 08:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>ilham</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Haha! Sudah akhir tahun lagi nih!
Dulu2, salah satu kegiatan rutin menyambut tahun baru adalah membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Menyenangkan memang, membuat target untuk setahun ke depan. Merancang bagaimana cara mencapai target itu. Dan tentunya membayangkan, betapa senangnya kalau target itu tercapai pada suatu hari di tahun depan.
Iya, gue lebih suka menyamakan resolusi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">H</span>aha! Sudah akhir tahun lagi nih!</p>
<p>Dulu2, salah satu kegiatan rutin menyambut tahun baru adalah membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Menyenangkan memang, membuat target untuk setahun ke depan. Merancang bagaimana cara mencapai target itu. Dan tentunya membayangkan, betapa senangnya kalau target itu tercapai pada suatu hari di tahun depan.</p>
<p>Iya, gue lebih suka menyamakan resolusi dengan target. Resolusi buat gue bukanlah sekedar harapan atau keinginan, tapi harus <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=249">spesifik dan terukur</a>.</p>
<p>Jadi, sebelum membuat resolusi untuk 2009, akhir tahun 2008 ini gue memilih untuk memeriksa ulang, apa kabar resolusi 2008 gue yang lalu? Hitung2 jadi <a href="http://management.about.com/cs/generalmanagement/a/keyperfindic.htm">Key Performance Indicator</a> (KPI), gitu <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><a id="more-270"></a><br />
Mari kita cek satu2..</p>
<blockquote><p><em>No more</em> ibadah di saat2 terakhir. </p></blockquote>
<p>Belum tercapai, bisa dibilang mengecewakan <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Nggak pulang terlambat lebih dari 3 kali seminggu</p></blockquote>
<p>Berhasil lah, <em>quite proud of it</em>.</p>
<blockquote><p>Berani nyetir sendiri ke luar kompleks</p></blockquote>
<p>Berhasiiilllll!!!!!!!!! (sambil joget ala Dora) Nggak cuma ke luar kompleks sih, tapi mengantar Naila setiap pagi ke <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=260">sekolah</a> dan sekalian gue ke kantor tentunya. Tapi belum berani nyetir ke luar kota nih. Apa perlu jadi resolusi tahun depan ya? Hehe..</p>
<blockquote><p>Bisa menyisihkan minimal 10% dari pendapatan bersama untuk tabungan dan investasi. </p></blockquote>
<p>Dibilang tercapai, nggak juga. Tapi alasannya cukup kuat kok. Kita memilih untuk nyicil mobil, si Desi alias D 351 plus dua huruf belakangnya yang disensor <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Cicilannya sekitar 25% pendapatan bersama, jadi wajar kan kalau nggak sanggup nabung 10%? Toh dana darurat dan uang pangkal SD Naila insya Allah nggak diganggu gugat.</p>
<blockquote><p>Hanya menggunakan maksimal 10% dari pendapatan bersama untuk keperluan printilan, terutama untuk belanja <em>fashion and beauty</em>. Tagihan HP pribadi juga nggak boleh lebih dari 300 ribu kecuali saat mengirimkan SMS lebaran. </p></blockquote>
<p>Haha, ini sebetulnya sih tercapai. Tapi karena sedang bayar cicilan yang lumayan besar, 10% pun kalau mau jujur sudah terlalu banyak. Tapi daripada nggak bisa <em>shopping</em>, gue memilih untuk menambah penghasilan. Salah satunya lewat <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=257">butik online</a> yang sementara ini sedang vakum. Pokoknya bisa belanja dan nyalon, hahaha&#8230;</p>
<blockquote><p>Setidaknya punya 2 <em>task</em> di luar <em>software development</em> sampai akhir tahun.</p></blockquote>
<p>Lumayan lah, walaupun masih sebatas jadi <em>sales engineer</em> gadungan yang jadi spesialis <em>technical proposal</em>. Beberapa kali mewawancara calon staf baru (halo, <a href="http://alwaysrun.wordpress.com">Aruna</a> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Menyenangkan juga. Jadi mikir2 nih, untuk pindah dari zona nyaman <em>software development</em> dan mencoba hal2 baru.</p>
<blockquote><p>Rutin ngecek pekerjaan anggota tim minimal 2 kali seminggu. </p></blockquote>
<p>Uh, banyakan lupanya. Untung pada pinter2 dan mandiri (ngeles.com).</p>
<blockquote><p>Kecuali gue hamil, berat badan gue nggak boleh naik lagi!</p></blockquote>
<p>Sampai bulan puasa kemarin sih masih OK2 aja. Cuma selisih 2 kg dengan sebelum hamil Naila dulu, sebuah prestasi kaaaaan?<br />
<br />Tapiiiiii.. kok sekarang langsung melesat pesat ya. Ampuuuun, harus diet lagi nih!</p>
<p>Ah memang, musuh gue masih tiga angka itu ya&#8230; Kadar kolesterol, berat badan, dan umur!!!!!!!!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=270</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
