<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.0.5" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>celoteh</title>
	<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh</link>
	<description>karena celoteh kemarin adalah untuk hari ini dan esok</description>
	<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 06:35:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>liburan akhir tahun di Ranah Minang</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 06:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<category>perjalanan</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[<p>tarik nafas panjang dulu sebelum membaca, bakal ngos2an karena panjang banget!</p>

<p>Sejak nikah dengan Abang yang berdarah Minangkabau, saya selalu tertarik untuk mengunjungi Sumatera Barat. Nggak adanya kewajiban mudik ke sana karena mertua di Jakarta, membuat keinginan ini baru tercapai akhir tahun 2008 lalu.</p>

<p>Awal Oktober, setelah libur Lebaran, kita mulai merencanakan perjalanan ini. Tiket pesawat PP, [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>tarik nafas panjang dulu sebelum membaca, bakal ngos2an karena panjang banget!</em></p>

<p><span class="first">S</span>ejak nikah dengan Abang yang berdarah Minangkabau, saya selalu tertarik untuk mengunjungi Sumatera Barat. Nggak adanya kewajiban mudik ke sana karena mertua di Jakarta, membuat keinginan ini baru tercapai akhir tahun 2008 lalu.</p>

<p>Awal Oktober, setelah libur Lebaran, kita mulai merencanakan perjalanan ini. Tiket pesawat PP, hotel2, sewa mobil, semua sudah dipesan sejak jauh2 hari. Cenderung berhati2 memang, mengingat ini perjalanan terjauh yang pernah kita tempuh bersama <strong>Naila</strong>. Rute2 perjalanan yang kita rencanakan pun selalu <a href="http://hildafarha.blogspot.com/2008/05/7-rahasia-kesuksesan-bepergian-dengan.html">mempertimbangkan</a> kemampuan dan minatnya. <em>Trekking</em>, jalan yang terlalu jauh, dan petualangan2 yang menantang harus dibuang dari agenda kali ini.</p>

<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162629854/" title="turis mode ON by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3129/3162629854_cafeede9bc_m.jpg" width="240" height="180" alt="turis mode ON" align="absmiddle" /></a>&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162631188/" title="Pesawatku by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3265/3162631188_32065e4c31_m.jpg" width="180" height="240" alt="Pesawatku" align="absmiddle"  /></a></p>

<h3><strong>Kecamatan berhitung</strong></h3>

<p>Kita mendarat di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minangkabau_International_Airport">Bandara Internasional Minangkabau</a>, Kabupaten Padang Pariaman, pada hari Jumat siang dengan menggunakan maskapai <a href="http://mandalaair.com">Mandala</a>. Bukan perjalanan yang mudah, karena harus duduk terpisah dari Abang, sementara Naila yang baru pertama kali terbang dengan pesawat jadi rewel karena sumbatan di telinganya (<a href="http://adnanabdullah.blogspot.com/2008/11/barotrauma.html">barotrauma</a>.</p>

<p><a id="more-271"></a>
Di bandara kita sudah dijemput supir mobil sewaan kita, <strong>Pak Edi</strong>. Dengan mobil Suzuki APVnya, kita mampir sebentar ke kota Padang memberikan oleh2 untuk seorang teman, lalu langsung menuju ke arah Bukittinggi. </p>

<p>Di nagari (desa) <font color="#ff8000"><strong>Pasar Usang</strong></font>, Kecamatan Batang Anai, kita berhenti untuk makan siang. Kebetulan ada rumah makan yang terletak di sebelah masjid besar, sehingga para laki2 bisa shalat Jumat. Di tukang gorengan depan rumah makan saya menemukan bayi kepiting yang digoreng dengan tepung bumbu. Renyah banget!</p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162140068/" title="Air terjun Lembah Anai by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3265/3162140068_be9b231050_m.jpg" width="180" height="240" alt="Air terjun Lembah Anai" /></a></span>Nama2 kecamatan di Sumatera Barat ternyata cukup unik karena banyak menggunakan angka. Sebut saja &#8220;4 Koto Aur Malintang&#8221;, &#8220;7 Koto Sungai Sarik&#8221;, dan yang paling unik adalah daerah asal kakeknya Abang, Kecamatan <font color="#ff8000"><strong>2 x 11 Enam Lingkung</strong></font>. Kata Abang, orang Minang selalu berhitung karena punya bakat dagang <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>

<p>Sekitar setengah jam perjalanan selepas istirahat, pemandangan berubah drastis. Dari sawah dan kebun yang cenderung datar, tiba2 bukit dan hutan menyambut. Kita ternyata sudah nggak jauh dari <font color="#ff8000"><strong>Lembah Anai</strong></font>. Air terjun Lembah Anai terletak di sebelah kiri jalan yang membelah Bukit Barisan itu. Sementara di sebelah kanan mengalir sungai Batang Anai yang berbatu2 besar, cantik sekali. Kita nggak lama singgah di sana, karena Naila ogah kecipratan air.</p>

<p>Perjalanan menuju kota <font color="#ff8000"><strong>Padangpanjang</strong></font> memukau saya. Rel kereta api yang dibuat Belanda memang sudah tak digunakan lagi, tapi jembatan2nya tetap terawat. Dicat oranye sangat kontras dengan hijau hutan di  belakangnya. Lima belas menit sampailah kita di Padangpanjang, kota terbesar di Kabupaten Tanah Datar yang berkontur naik turun di lereng Gunung Singgalang dan Gunung Marapi ini. Bangunan2 megah beratap <em>bagonjong</em> bertebaran di kota yang bersih ini. Komentar Naila, <em>&#8220;Di sini kok rumah2nya bertanduk sih!&#8221;</em>.</p>

<h3><strong>Meninjau Maninjau di Puncak Lawang</strong></h3>

<p>Antara Padangpanjang dan Bukittinggi ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Di Padangpanjang ada <font color="#ff8000"><strong>Sate Padang Mak Syukur</strong></font> yang juga membuka cabang di Jakarta. Lalu para penjual kue <font color="#ff8000"><strong>bika</strong></font> (semacam serabi, dari tepung beras dan kelapa) di nagari Koto Baru, Kecamatan Sapuluh Koto. Nggak jauh dari sana terdapat persimpangan ke kiri, ke arah nagari <font color="#ff8000"><strong>Pandai Sikek</strong></font> yang terkenal dengan songket benang emas dan sulam tangannya. Tapi karena terbatasnya waktu agar bisa melihat Danau Maninjau sebelum gelap, terpaksa tempat2 ini kita lewatkan.</p>

<p>Di nagari Padang Luar, Pak Edi membelokkan mobil ke kiri, menuju Maninjau. Jalannya hanya pas untuk dua mobil, tapi pemandangannya indah dan udaranya segar. Kita melalui beberapa desa kecil sebelum akhirnya sampai di Matur. Di sini terdapat persimpangan, lurus melalui Embun Pagi dan <font color="#ff8000"><strong>Kelok 44</strong></font> ke Maninjau, sedangkan jalur ke kanan yang kita ambil, menuju <font color="#ff8000"><strong>Puncak Lawang</strong></font>. </p>

<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161797273/" title="di tepi jalan menuju Maninjau by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3256/3161797273_f2743889cd_m.jpg" width="240" height="180" alt="di tepi jalan menuju Maninjau" /></a>&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161826599/" title="Lagi, dari Puncak Lawang by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3128/3161826599_583a55cf4c_m.jpg" width="240" height="180" alt="Lagi, dari Puncak Lawang" /></a></p>

<p>Jalan ke Puncak Lawang lebih kecil, tapi sudah teraspal. Makin mendekati Puncak Lawang terdapat perkebunan tebu dan industri kecil pembuatan gula. Agak aneh buat saya, karena di Pulau Jawa perkebunan tebu biasanya terletak di dataran rendah. </p>

<p>Puncak Lawang adalah puncak tertinggi perbukitan di tepi timur Danau Maninjau. Dari ketinggian 900 m pandangan ke arah Danau Maninjau sangat jelas dan bersih. Di antara bukit2 di sisi barat tampak mengintip lepas pantai utara Pariaman.</p>

<h3><strong>Jam Gadang di waktu malam</strong></h3>

<p>Dari Puncak Lawang kita langsung menuju ke Bukittinggi. Waktu sudah tidak mengijinkan kita turun ke tepi Maninjau melalui Kelok 44 yang terkenal itu. 
Kali ini Pak Edi mengajak kita melewati jalan di dasar <font color="#ff8000"><strong>Ngarai Sianok</strong></font> untuk kemudian muncul di Jalan Panorama, kota Bukittinggi. Lagi2 jalan yang kita lewati ini sempit, menanjak-menurun, dan penuh tikungan tajam. Benar2 bukan rute untuk yang langganan mabuk darat! Saya juga baru tahu bahwa di dasar Ngarai Sianok terdapat beberapa desa, yang bahkan dilalui rute angkot.</p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161826885/" title="Jam Gadang di waktu malam by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3110/3161826885_9fec696e89_m.jpg" width="240" height="192" alt="Jam Gadang di waktu malam" /></a></span>Kita menginap di <font color="#ff8000"><strong>Hotel Yuriko</strong></font>. Kamarnya lumayan, kelas hotel melati, tapi letaknya sangat strategis karena hanya berjarak 300 meter dari Jam Gadang yang merupakan pusat kota Bukittinggi. Musim liburan ini, Bukittinggi benar2 menjadi kota turis: hotel2 penuh, <em>backpackers</em> berkeliaran, dan berbagai dialek dari Malaysia hingga Jakarta terdengar di mana2.</p>

<p>Setelah mandi dan beristirahat sebentar, kita memutuskan mencari makan di seputar <font color="#ff8000"><strong>Jam Gadang</strong></font>. Ternyata taman di sekitarnya sangat ramai malam itu. Banyak pedagang mainan, kacang, juga jasa lukis wajah seperti di Malioboro. Naila senang sekali melihat mainan piring terbang yang bisa menyala, sehingga kita cukup lama juga berada di sana.</p>

<p>Rencananya kita mau makan di Simpang Raya. Memang sih, di seputar Jakarta – Bandung pun rumah makan ini punya banyak cabang. Tapi lokasinya strategis, dan masih lebih baik daripada makan di rumah makan Rindu Alam cabang Puncak toh? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' />  Rencana tinggal rencana, karena Naila mengaku tidak lapar saat diajak masuk Simpang Raya. Beberapa langkah dari sana, di depan KFC, Naila dengan mata berbinar2 berkata, <em>”Nah kalo di sini aku lapar!”</em> Ya sudah, ayam pop jatah buat besok saja deh.</p>

<h3><strong>Dari ngarai hingga sanjai</strong></h3>

<p>Pagi ini Naila bangun agak siang, mungkin karena semalam tidurnya terganggu serangan asma. Untung bawa nebulizer kecil. </p>

<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162661306/" title="Ngarai Sianok dilihat dari Taman Panorama, Bukittinggi by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3111/3162661306_cf45454d54_m.jpg" width="240" height="180" alt="Ngarai Sianok dilihat dari Taman Panorama, Bukittinggi" /></a></span>Berbelanja di kota Bukittinggi adalah tujuan pertama. Di <font color="#ff8000"><strong>Pasar Atas</strong></font> kita beli bahan baju dan selendang bersulam tangan khas Bukittinggi untuk oleh2, serta kerajinan <em>crochet</em>  berupa taplak meja dan sarung bantal.</p>

<p>Masih untuk oleh2, kita mampir di <font color="#ff8000"><strong>Sanjai Nitta</strong></font> di jalan raya ke arah Padang untuk membeli berbagai makanan khas. Yang banyak ditawarkan di sini adalah keripik sanjai (singkong), dakak-dakak (sejenis keripik berbentuk kubus2 mungil berbumbu kunyit), dan berbagai jenis rendang kering dari daerah Payakumbuh.</p>

<p>Urusan belanja selesai, perjalanan dilanjutkan ke arah Payakumbuh sambil melalui beberapa tempat dalam kota Bukittinggi. Kita bertiga mengunjungi <font color="#ff8000"><strong>Taman Panorama</strong></font> untuk melihat Ngarai Sianok dari atas, setelah kemarin sore melewati dasar ngarai yang dalamnya 100 meter ini. Sayangnya Naila merasa nggak nyaman dengan angin besar di sana, sehingga kita nggak bisa berlama2. Sementara menyusuri <font color="#ff8000"><strong>Goa Jepang</strong></font> yang dulunya markas rahasia penjajah Jepang di dinding ngarai, sejak awal memang nggak direncanakan. Mana mau dia <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> .</p>

<p>Melintasi benteng Fort de Kock, lalu Pak Edi mengambil jalan utama Padang – Pekanbaru. Setengah jam dari Payakumbuh, ibukota Kabupaten Limapuluh Kota, kita sampai di <font color="#ff8000"><strong>Lembah Harau</strong></font>. Saat berdiri di dasar lembah, rasanya seperti <a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3165141241/">dibentengi</a> tebing2 cadas yang berdiri megah, tegak lurus di sekeliling. Menurut saya lembah ini nggak kalah menakjubkan dari Ngarai Sianok yang lebih terkenal itu. </p>

<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162665764/" title="tebing di Harau by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3091/3162665764_c6628c49db_m.jpg" width="240" height="180" alt="tebing di Harau" align="absmiddle" /></a>&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162669272/" title="tirai air terjun Harau by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3102/3162669272_3bc4616dff_m.jpg" width="180" height="240" alt="tirai air terjun Harau" align="absmiddle" /></a></p>

<p>Setelah melalui hamparan sawah dan menyusuri jalan di tepi tebing, sampailah kita di air terjun yang juga terletak di tepi jalan raya. Kabarnya masih ada beberapa air terjun lain, tapi waktu nggak mengijinkan kita ke sana. Air terjun yang kita datangi ini nggak sederas air terjun Lembah Anai, tapi lebih lebar sehingga terlihat seperti tirai air yang cantik.</p>

<h3><strong>Sisa istana terbakar di Batusangkar</strong></h3>

<p>Puas di Harau, Pak Edi membawa kita kembali ke arah Payakumbuh, lalu membelok ke Batusangkar. Sepanjang jalan yang semakin menanjak, dataran rendah Payakumbuh terlihat sangat memukau. Tempat terindah untuk melihat pemandangan ini adalah di <font color="#ff8000"><strong>Tabek Patah</strong></font>, sekitar 16 km sebelum kota Batusangkar. Konon di sini dulunya terdapat sebuah kolam (<em>”tabek”</em>) yang kemudian patah menjadi dua bagian.</p>

<p>Nggak jauh dari sana, kita mencicipi teh dari daun murbei di tempat Pak <a href=http://www.pasarmuslim.com/kisahsukses.php?bid=160>Satria Budiman</a>. Sampai di Batusangkar sudah cukup siang, perut lapar, dan jam makan siang Naila sudah lama berlalu. Kita diajak Pak Edi ke <font color="#ff8000"><strong>Nasi Kapau Uni Gadih</strong></font>, di tepi jalan raya Batusangkar – Sawahlunto. Setelah minta digorengkan ayam yang nggak pedas khusus untuk Naila, kita makan di depan jendela yang menghadap ke sawah. Setelah makan dan shalat, kita melintasi kota Batusangkar menuju <font color="#ff8000"><strong>Istano Basa Pagaruyung</strong></font>, yang letaknya 5 km dari pusat kota. Abang yang pernah tinggal lima tahun di Batusangkar jadi sibuk bernostalgia melihat rumah dan SDnya dulu. </p>

<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162692916/" title="Istano Silindung Bulan, Batusangkar by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3099/3162692916_8d06218528_m.jpg" width="240" height="180" alt="Istano Silindung Bulan, Batusangkar" /></a></span>Awal tahun 2007 lalu, Istana Pagaruyung terbakar habis karena disambar petir. Walaupun sesungguhnya istana inipun merupakan replika dari istana aslinya di Bukit Batu Patah yang terbakar tahun 1804, tetap saja saya miris melihat bangunan bersejarah itu ludes tak bersisa. Namun melihat kegiatan pembangunan kembali istana, hati saya agak terhibur. Istana yang baru ini akan dibangun dengan fondasi dan rangka beton. Hanya dinding istanalah yang nantinya akan terbuat dari kayu berukir seperti aslinya.</p>

<p>Di sekitar Istano Basa Pagaruyung terdapat beberapa istana kecil yang masih terawat baik. Kita berhenti di <a href=http://www.paketrupiah.com/artikel/istana_silinduang_bulan,_ranah_minang_sesungguhnya.php>Istano Silindung Bulan</a> untuk berfoto. Di bagian dalamnya terdapat empat bilik (“kamar” tidur) yang dipisahkan dengan tirai. Di ruang utama diletakkan meja2 rendah tempat makan bersama. Dinding bagian dalamnya yang berwarna gelap sangat kontras dengan tirai dan bantal2 yang sebagian besar berwarna merah, kuning dan keemasan. Ah, saya malah jadi sedih membayangkan indahnya Istano Basa Pagaruyung yang tentunya lebih besar, lebih megah dan lebih indah itu. Siapa tahu saya berkesempatan mengunjunginya lagi beberapa tahun mendatang.</p>

<h3><strong>Tertawan badai di Sikuai</strong></h3>

<p>Di hari ketiga, pagi2 kita sudah berangkat dari Bukittinggi ke Padang. Setelah <em>early check-in</em> di <font color="#ff8000"><strong>Hotel Nuansa</strong></font> yang terletak di pinggir pantai, kita menuju <a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161876191/">Dermaga Wisata Bahari</a> di Muara untuk mengikuti <em>one-day trip</em> seharga 125 ribu rupiah ke <a href=http://newsikuaiisland.com>Pulau Sikuai</a>. Walaupun kapal baru berangkat pukul sepuluh pagi, sejak pukul 8.30 sudah banyak orang datang pada Minggu pagi itu.</p>

<p>Membawa Naila, kita memantau cuaca di situs <a href=http://www.bmg.go.id>BMG</a> dan cuaca setempat pagi itu. Cuaca buruk yang sering hadir di musim hujan dapat membuat pelayaran tidak menyenangkan karena ombak besar. Untungnya cuaca cerah pagi itu. Naila yang sempat takut, akhirnya mulai menikmati pelayaran selama satu jam lebih itu.</p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3161876199/" title="Naila ala turis, di Sikuai by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3095/3161876199_167f4c389d_m.jpg" width="180" height="240" alt="Naila ala turis, di Sikuai" /></a></span>Pulau Sikuai sebetulnya terletak nggak jauh dari lepas pantai Bungus, selatan kota Padang. Namun karena kapal berangkat dari Muara di dalam kota Padang, kita harus berlayar menyusuri pantai, melewati Teluk Bayur, hingga sampai di pulau kecil ini. Pantainya berpasir putih, dipagari pohon2 kelapa berjajar rapi, dan air biru yang nyaris tanpa ombak karena diapit semenanjung dan pulau2 kecil lainnya. <em>Snorkeling</em> melihat ikan2 aneka warna atau sekedar berjalan kaki mengelilingi pulau juga dapat dilakukan di pulau yang hanya memiliki satu resort hotel ini.</p>

<p>Naila senang sekali bermain pasir di pantai, ditunggui Bundanya yang minum kelapa muda dan makan rujak buah. Benar2 seperti surga dunia. Sayangnya pihak pengelola tampak kurang siap dengan banyaknya pengunjung hari itu, sehingga makan siang baru siap jam dua siang.</p>

<p>Kegembiraan kita nggak berlangsung lama <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Jam setengah tiga tiba2 datang badai, disertai angin kencang, hujan deras, kabut tebal dan ombak tinggi. Manusia boleh berencana dan berhati2, tapi cuaca ternyata nggak bisa ditebak. Kapal yang sedianya kembali ke Padang jam empat sore terpaksa ditunda menunggu cuaca membaik. Ratusan orang menunggu di dalam restoran dan lobi hotel, sehingga bisa dibayangkan betapa <em>crowded</em>-nya suasana saat itu.</p>

<p>Jam 6 sore kapal diberangkatkan. Tapi jumlah penumpang yang saya perkirakan lebih dari 200 orang itu nggak dapat terangkut sekaligus. Nasib membuat kita termasuk dalam rombongan yang nggak terangkut dan harus menunggu kapal berikutnya. Saat saya merasa kecewa itulah, ternyata Tuhan bermaksud melindungi Naila dari pengalaman yang lebih buruk. Kapal yang diberangkatkan barusan, kembali ke Sikuai karena dihadang ombak yang bermeter2 tingginya. <em>”Penumpang pada menangis, Bu. Saya sempat trauma naik kapal”</em>, kisah <strong>Ibu Ruri</strong> yang pergi bersama suami, anak2 dan keluarga kakaknya.</p>

<p><span class="shadow"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3165979018/" title="Sikuai, heaven on earth by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3267/3165979018_0350aeb840.jpg" width="500" height="375" alt="Sikuai, heaven on earth" /></a></span></p>

<p>Badai menawan kita di Sikuai. Lagi2 pengelola hotel kurang tanggap menyiapkan penginapan darurat. Makan malam dengan menu yang sama seperti siangnya, nasi goreng, baru muncul jam sepuluh malam. Kita dan beberapa keluarga lain yang membawa anak kecil akhirnya membuat pos di <em>pub</em>. Panggungnya yang hangat kita gunakan untuk membaringkan anak2. Dialasi sarung untuk shalat Ayahnya dan berbantalkan tas Bundanya, alhamdulillaah Naila bisa tidur nyenyak.</p>

<p>Jam enam paginya kita kembali ke Padang. Lebih dari 150 orang dijejalkan dalam satu kapal kecil, agak mengabaikan faktor keselamatan sepertinya. Sisa2 badai semalam masih cukup terasa, laut belum setenang kemarin pagi saat kita berangkat. Alhamdulillaah, kita bertiga nggak mabuk laut seperti sebagian besar penumpang. Nggak terlalu banyak menggerakkan kepala, selalu mengamati dan bersiap akan datangnya ombak, dan mendapatkan udara segar adalah resep yang kita praktikkan.</p>

<h3><strong>Sampai jumpa, Ranah Minang!</strong></h3>

<p>Hotel yang sudah kita bayar untuk semalam, terpaksa hanya dapat kita manfaatkan beberapa jam saja. Mandi dan beristirahat di atas kasur empuk tentu saja sangat kita rindukan setelah tegang semalaman ditawan badai dan tidur2 ayam dengan tubuh melengkung.</p>

<p>Siangnya setelah puas beristirahat, kita makan siang di restoran <font color="#ff8000"><strong>Nelayan</strong></font> tak jauh dari hotel. Salah satu restoran <em>seafood</em> paling terkenal (dan cukup mahal) di Padang ini menyajikan berbagai jenis ikan, cumi2, kepiting dan udang ala masakan Cina. Bahan bakunya memang supersegar, sehingga walaupun bumbunya standar, masakan tetap terasa nikmat. </p>

<p>Karena penerbangan kita ditunda hingga lewat jam lima sore, kita memuat semua barang ke dalam bagasi taksi dan berkeliling kota Padang. Karena belum terlalu lapar, kita pergi ke toko cindera mata <font color="#ff8000"><strong>”Silungkang &amp; Pandai Sikek”</strong></font> di Jl.Sudirman. Seperti namanya, toko ini terutama menjual songket, sarung, bordir dan sulam dari Silungkang dan Pandai Sikek, juga Koto Gadang. Harganya hamper sama dengan di Pasar Atas Bukittinggi. </p>

<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/3162721200/" title="my brand new Silungkang songket by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3090/3162721200_c4f02ca239_m.jpg" width="240" height="180" alt="my brand new Silungkang songket" /></a></span>Penjualnya menjelaskan, songket Pandai Sikek memiliki ciri khas lebih banyak benang emas, dan otomatis harganya juga lebih mahal. Sementara songket Silungkang terlihat seperti sarung, yang memang merupakan tenun khas Silungkang, dengan ornamen benang emas yang nggak terlalu banyak. Songket Koto Gadang memiliki lebih sedikit lagi benang emas, dengan kain katun tenunan tangan berwarna gelap. Songket Pandai Sikek dihargai 1,3 juta sampai 3 juta rupiah, songket Silungkang mulai 500 ribu rupiah ke atas, dan songket Koto Gadang harganya mulai 350 ribu rupiah. Mahal? Memang sih, tapi di Jakarta bisa sampai 2 kali lipatnya.</p>

<p>Saya yang rada <em>fetish</em> <a href=http://jalankenangan.net/mereka.php>kain tradisional</a>, membeli songket Silungkang, tanpa rencana. Untung bisa <em>gesek</em> tanpa biaya tambahan <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Dan sebelum saya tambah kalap, kita menuju daerah Kampung Cina untuk makan es duren <font color="#ff8000"><strong>Ganti Nan Lamo”</strong></font>. Berbeda dengan es duren Sakinah khas Bandung, es duren Padang ini mirip es campur dengan saus durian yang kental dan sedikit susu kental manis coklat. Rasanya? Luar biasa.</p>

<p>Akhirnya saatnya tiba bagi kita untuk menuju ke Bandara Minangkabau. Saya berjanji dalam hati, akan kembali kemari. Masih banyak tujuan wisata kuliner yang belum dicicipi, seperti Gulai Itiak Kedai Ngarai, Gulai Ikan Pauh Piaman, atau Sate Padang Mak Syukur. Saya ingin singgah di Singkarak, Danau Kembar dan menyusuri bekas tambang batubara di Sawahlunto. Dan siapa tahu, saat itu Istano Basa Pagaruyung sudah selesai dipugar.</p>

<p>Selamat tinggal, Ranah Minang. Sampai jumpa lagi!</p>

<p><em>eh, kamu belum ketiduran kan bacanya?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=271</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>apa kabar resolusi (tahun lalu)-mu?</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=270</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=270#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 08:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>ilham</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[<p>Haha! Sudah akhir tahun lagi nih!</p>

<p>Dulu2, salah satu kegiatan rutin menyambut tahun baru adalah membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Menyenangkan memang, membuat target untuk setahun ke depan. Merancang bagaimana cara mencapai target itu. Dan tentunya membayangkan, betapa senangnya kalau target itu tercapai pada suatu hari di tahun depan.</p>

<p>Iya, gue lebih suka menyamakan resolusi [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">H</span>aha! Sudah akhir tahun lagi nih!</p>

<p>Dulu2, salah satu kegiatan rutin menyambut tahun baru adalah membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Menyenangkan memang, membuat target untuk setahun ke depan. Merancang bagaimana cara mencapai target itu. Dan tentunya membayangkan, betapa senangnya kalau target itu tercapai pada suatu hari di tahun depan.</p>

<p>Iya, gue lebih suka menyamakan resolusi dengan target. Resolusi buat gue bukanlah sekedar harapan atau keinginan, tapi harus <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=249">spesifik dan terukur</a>.</p>

<p>Jadi, sebelum membuat resolusi untuk 2009, akhir tahun 2008 ini gue memilih untuk memeriksa ulang, apa kabar resolusi 2008 gue yang lalu? Hitung2 jadi <a href="http://management.about.com/cs/generalmanagement/a/keyperfindic.htm">Key Performance Indicator</a> (KPI), gitu <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>

<p><a id="more-270"></a>
Mari kita cek satu2..</p>

<blockquote><em>No more</em> ibadah di saat2 terakhir. </blockquote>

<p>Belum tercapai, bisa dibilang mengecewakan <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>

<blockquote>Nggak pulang terlambat lebih dari 3 kali seminggu</blockquote>

<p>Berhasil lah, <em>quite proud of it</em>.</p>

<blockquote>Berani nyetir sendiri ke luar kompleks</blockquote>

<p>Berhasiiilllll!!!!!!!!! (sambil joget ala Dora) Nggak cuma ke luar kompleks sih, tapi mengantar Naila setiap pagi ke <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=260">sekolah</a> dan sekalian gue ke kantor tentunya. Tapi belum berani nyetir ke luar kota nih. Apa perlu jadi resolusi tahun depan ya? Hehe..</p>

<blockquote>Bisa menyisihkan minimal 10% dari pendapatan bersama untuk tabungan dan investasi. </blockquote>

<p>Dibilang tercapai, nggak juga. Tapi alasannya cukup kuat kok. Kita memilih untuk nyicil mobil, si Desi alias D 351 plus dua huruf belakangnya yang disensor <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Cicilannya sekitar 25% pendapatan bersama, jadi wajar kan kalau nggak sanggup nabung 10%? Toh dana darurat dan uang pangkal SD Naila insya Allah nggak diganggu gugat.</p>

<blockquote>Hanya menggunakan maksimal 10% dari pendapatan bersama untuk keperluan printilan, terutama untuk belanja <em>fashion and beauty</em>. Tagihan HP pribadi juga nggak boleh lebih dari 300 ribu kecuali saat mengirimkan SMS lebaran. </blockquote>

<p>Haha, ini sebetulnya sih tercapai. Tapi karena sedang bayar cicilan yang lumayan besar, 10% pun kalau mau jujur sudah terlalu banyak. Tapi daripada nggak bisa <em>shopping</em>, gue memilih untuk menambah penghasilan. Salah satunya lewat <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=257">butik online</a> yang sementara ini sedang vakum. Pokoknya bisa belanja dan nyalon, hahaha&#8230;</p>

<blockquote>Setidaknya punya 2 <em>task</em> di luar <em>software development</em> sampai akhir tahun.</blockquote>

<p>Lumayan lah, walaupun masih sebatas jadi <em>sales engineer</em> gadungan yang jadi spesialis <em>technical proposal</em>. Beberapa kali mewawancara calon staf baru (halo, <a href="http://alwaysrun.wordpress.com">Aruna</a> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Menyenangkan juga. Jadi mikir2 nih, untuk pindah dari zona nyaman <em>software development</em> dan mencoba hal2 baru.</p>

<blockquote>Rutin ngecek pekerjaan anggota tim minimal 2 kali seminggu. </blockquote>

<p>Uh, banyakan lupanya. Untung pada pinter2 dan mandiri (ngeles.com).</p>

<blockquote>Kecuali gue hamil, berat badan gue nggak boleh naik lagi!</blockquote>

<p>Sampai bulan puasa kemarin sih masih OK2 aja. Cuma selisih 2 kg dengan sebelum hamil Naila dulu, sebuah prestasi kaaaaan? 
<br />Tapiiiiii.. kok sekarang langsung melesat pesat ya. Ampuuuun, harus diet lagi nih!</p>

<p>Ah memang, musuh gue masih tiga angka itu ya&#8230; Kadar kolesterol, berat badan, dan umur!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=270</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>miracle make-up</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=269</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=269#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 03:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>resensi</category>

		<category>fesyen</category>

		<category>buku</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[<p>Judul: Miracle Make-Up by Wawa Sugimurti
Penulis: Reni Kusumawardani</p>

<p>My review
Rating:  of 5 stars
Nama Wawa cukup tersohor sebagai seorang makeup artist senior di Indonesia. Pendidikan formalnya selaku insinyur sipil seakan mematahkan anggapan bahwa female engineers nggak suka dan nggak bisa dandan curcol.com.</p>

<p>Buku ini membahas rias wajah dari dasar. Memperkenalkan perbedaan, kegunaan, dan cara aplikasi [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.goodreads.com/book/show/5983940.Miracle_Make_Up_by_Wawa_Sugimurti?utm_medium=api&amp;utm_source=blog_review" style="float: left; padding-right: 20px"><img alt="Miracle Make-Up by Wawa Sugimurti " border="0" src="http://photo.goodreads.com/books/1228815548m/5983940.jpg" /></a>Judul: <a href="http://www.goodreads.com/book/show/5983940.Miracle_Make_Up_by_Wawa_Sugimurti?utm_medium=api&amp;utm_source=blog_review">Miracle Make-Up by Wawa Sugimurti</a>
<br />Penulis: <a href="http://www.goodreads.com/author/show/2741794.Reni_Kusumawardani">Reni Kusumawardani</a><br /><br />
  <a href="http://www.goodreads.com/review/show/39732010?utm_medium=api&amp;utm_source=blog_review">
<h3>My review</h3></a>
<br />Rating: <img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="null" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="null" /><img src="http://www.jalankenangan.net/images/star.gif" alt="null" /> of 5 stars
<br />Nama Wawa cukup tersohor sebagai seorang <i>makeup artist</i> senior di Indonesia. Pendidikan formalnya selaku insinyur sipil seakan mematahkan anggapan bahwa <i>female engineers</i> nggak suka dan nggak bisa dandan <em>curcol.com</em>.
<br />
<br />Buku ini membahas rias wajah dari dasar. Memperkenalkan perbedaan, kegunaan, dan cara aplikasi <i>foundation, concealer</i> dan bedak. Penjelasannya singkat tapi padat dan jelas. Mulai dari jenis <i>foundie</i> yang sebaiknya dipilih untuk jenis kulit tertentu, sampai bagaimana cara memilih warna yang tepat. 
<br />
<br />Kemudian masuk ke bagian paling seru dari tata rias wajah, yaitu riasan mata. Rias matalah yang paling membedakan riasan sehari2 dengan riasan pesta. Dari rias matanya pula kita bisa menilai, apakah seseorang cenderung berdandan konservatif, atau malah berani tampil beda. Sebagian besar contoh riasan diberikan ilustrasi <i>step-by-step</i>nya sehingga mudah diikuti.
<br />
<a id="more-269"></a>
<br />Setelah dasar2 riasan mata dengan satu, dua dan tiga warna, Wawa menunjukkan berbagai contoh riasan. <i>Smokey eyes</i>, natural, romantis, dramatis, eksotis&#8230; Riasan2nya mudah ditiru dan pilihan warnanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, hehe&#8230; Berbeda dengan kesan saya saat membolak balik halaman kecantikan majalah2 wanita yang bikin saya mikir, <i>&#8220;Dandan kayak gitu, buat pergi ke mana sih jeuung?&#8221;</i>. 
<br />
<br />Ada satu dua yang menurut saya <i>too much</i>, misalnya merias mata dengan beberapa warna saat mengenakan lipstik merah. Saya sih, cenderung merias mata dengan minimalis kalau bibir sudah pakai lipstik merah jreng jreng&#8230;
<br />
<br />Wawa juga memberikan contoh2 tata rias untuk setiap usia, mulai dari 20-an sampai 50-an. Juga saran2 untuk kasus2 khusus, misalnya berkacamata, berkerudung, atau memiliki kantung mata.
<br />
<br />Sayangnya masih ada beberapa petunjuk yang tidak berilustrasi. Misalnya cara mengaplikasikan bedak <i>bronzer</i> untuk <i>shading</i> alias menyempurnakan kontur wajah. Padahal <i>bronzer</i> seringkali muncul sebagai kosmetik yang digunakan pada berbagai tata rias dalam buku ini.
<br />
<br />Mungkin karena buku ini ditujukan untuk pemula, masih banyak hal yang belum terangkat tuntas. Misalnya bagaimana membentuk alis sesuai bentuk wajah, penggunaan <i>primer</i> sebagai alas tata rias, penggunaan <i>eyeshadow base</i>, dan sebagainya.
<br />
<br />Oh ya, salah satu nilai positif buku ini adalah harganya yang nggak terlalu mahal. Bandingkan dengan buku tata rias Gusnaldi yang harganya dua kali lipatnya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . 
  <br /><br /><a href="http://www.goodreads.com/review/list/1393377?utm_medium=api&amp;utm_source=blog_review">View all my reviews.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=269</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Naila&#8217;s first cinema</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=268</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=268#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 04:57:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sejak lama Naila suka Highschool Musical 1 dan 2 yang sering diputar di Disney Channel. Mungkin ini efek dari ngidam film India waktu hamil Naila dulu. Gara2 Bundanya seminggu 3 kali nangkring di depan Indosiar atau TPI, nonton film2nya Shahrukh Khan &#38; Kajol, Shahrukh Khan &#38; Aishwarya Rai, Shahrukh Khan &#38; Rani Mukherjee, Shahrukh Khan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>ejak lama Naila suka <b>Highschool Musical</b> 1 dan 2 yang sering diputar di <a href="http://disneychannel-asia.com/DisneyChannel/index.html">Disney Channel</a>. Mungkin ini efek dari ngidam film India waktu hamil Naila dulu. Gara2 Bundanya seminggu 3 kali nangkring di depan Indosiar atau TPI, nonton film2nya Shahrukh Khan &amp; Kajol, Shahrukh Khan &amp; Aishwarya Rai, Shahrukh Khan &amp; Rani Mukherjee, Shahrukh Khan &amp; Madhuri Dixit, Shahrukh Khan dan entah siapa lagi&#8230;. Naila jadi suka film2 <i>musical</i> seperti ini. Hehehe&#8230; </p>

<p>Nah, waktu muncul iklan &amp; <i>trailer</i> <a href="http://www.imdb.com/title/tt0962726/">Highschool Musical 3</a> di saluran TV favoritnya itu, Naila bilang pengen nonton. Walaupun Bunda bilang film itu baru ada di bioskop, yang mana Naila <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=266">masih ogah</a> ke bioskop, dia tetap keukeuh ingin nonton. </p>

<p>Bunda: <i>&#8220;Bener, mau ke bioskop sama Bunda?&#8221;</i></p>

<p>Naila: <i>&#8220;Iyaaa&#8230; aku mau nonton Highschool Musical!&#8221;</i> (Catatan 1: perhatikan perubahan penyebutan orang pertama.. hehe.. Naila sekarang menyebut dirinya dengan <u>aku</u> dan bukan lagi <u>Neng</u>)</p>

<p><a id="more-268"></a>
Bunda: <i>&#8220;Nggak takut gelap?&#8221;</i></p>

<p>Naila: <i>&#8220;Nggak lah Bundaaaaa&#8230; kan aku udah gede! Udah TK A!&#8221;</i>  (Catatan 2: perhatikan perubahan penyebutan Bunda.. bukan lagi Ibu Bear, hehe..)</p>

<p>Bunda: <i>&#8220;Betah duduk 2 jam di dalem bioskop, nggak rewel minta keluar?&#8221;</i></p>

<p>Naila: <em>mikir</em> <i>&#8220;Nggak deh.. nggak rewel&#8221;</i></p>

<p><span class="first">H</span>mm&#8230; OK&#8230; Masalah berikutnya, HSM 3 belum main di Bandung. Nggak tau deh kapan.</p>

<p>Kebetulan hari Minggu kemarin, Ayah ada acara reuni SMAnya di Bugz Cafe, Pondok Indah. Sabtunya ada nikahan teman kantornya. Kebetulan dong! Kita bisa ikut ke Jakarta, dan nonton HSM 3 di Pondok Indah 21 sementara Ayah reunian. <i>What a perfect plan!</i></p>

<p>Ternyata realisasinya nggak se-<i>perfect</i> itu <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . </p>

<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://jalankenangan.net/images/n_blog/tiket21.jpg" alt="Tiket" /></span>Jam 11 siang kita sampai di PIM. Ayah jalan kaki ke Bugz Cafe, sementara Bunda dan Naila antri tiket 21. Tapi tiket HSM 3 untuk pertunjukan jam 12.15 sudah habis. Naila langsung pasang tampang mau mewek. Akhirnya Bunda telpon Ayah, dan kita bakal nonton bertiga jam 14.25.</p>

<p>Euh, ngapain aja tuh, 3 jam di mal? Main di <i>playground</i> dan nggak sengaja ketemu <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1032002077&amp;v=info">Ale</a>. Duh, dunia memang sempit. </p>

<p>Setelah itu makan di <strong>Sushi Tei</strong>, Naila mau salmon sashimi. Sempat ngantri juga sih, dan Naila sudah ribut, <em>&#8220;Bundaaa I&#8217;m hungryyyy!!!&#8221;</em> Setelah itu kita jalan2, nangkring sebentar di mushala dan shalat Zhuhur di sana. </p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://jalankenangan.net/images/n_blog/hsm3.jpg" alt="Naila dan HSM3 :)" /></span>Setelah itu makan es krim. Kebetulan di sebelah kita ada seorang bapak2 dan anaknya, laki2, umur 10 tahunan. Bapaknya tanya kepada anaknya, <i>&#8220;Nanti kalo sesek gimana, Dek? Kalo batuk gimana?&#8221;</i> Wah, senasib rupanya, sesama penderita asma yang pantang makanan dingin2, hehe.. Naila dengar begitu, senyum2 jahil dan bilang ke Bunda, <i>&#8220;Bunda juga nggak boleh es krim kaaan? Nanti batuk looh!!!!&#8221;</i> Ih, sebelum &#8220;diserang&#8221;, &#8220;menyerang&#8221; duluan ya Nai? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>

<p><span class="first">N</span>ggak kerasa sudah jam 2. Ayah datang dari Bugz Cafe, lalu kita menunggu di depan Studio 3. Ternyata memang sebagian besar penonton HSM3 ini anak2 perempuan, mulai dari umur 4 tahun (pakai <em>merchandise</em> HSM3 bow!) sampai usia SMA lah.. </p>

<p>Terus, bagaimana kesan2 Naila nonton HSM3 di bioskop? Senang banget!!! Sempat agak bosan di tengah2 film karena harus duduk terus. Tapi setelah dibujuk dan dialihkan perhatiannya (hebat kan Bundanya? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ) ternyata bisa <i>enjoy</i> lagi dan bertahan sampai akhir.</p>

<p>Jadi kapan nonton lagi Nai? <a href="http://www.imdb.com/title/tt1014775/">Beverly Hills Chihuahua</a>? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=268</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>fun lebaran :)</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=267</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=267#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 10:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebelum bulan Syawal habis dan cerita Lebaran jadi basi, kita cerita2 dulu deh di sini. Pertama2 tentunya, kami keluarga Jalankenangan mohon maaf lahir batin, dan semoga Allah menerima ibadah2 kita semua di bulan Ramadhan sebagai amal shalih yang bisa menyucikan diri kita masing2. Amin.</p>

<p>Yak, balik ke ke cerita Lebaran. Tahun ini giliran Lebaran di Jakarta, [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>ebelum bulan Syawal habis dan cerita Lebaran jadi basi, kita cerita2 dulu deh di sini. Pertama2 tentunya, kami keluarga Jalankenangan mohon maaf lahir batin, dan semoga Allah menerima ibadah2 kita semua di bulan Ramadhan sebagai amal shalih yang bisa menyucikan diri kita masing2. Amin.</p>

<p>Yak, balik ke ke cerita Lebaran. Tahun ini giliran Lebaran di Jakarta, di rumah Kakek-Neneknya Naila dari pihak Ayah. Kita datang di Jakarta tanggal 29 September menjelang buka puasa, dan kembali ke Bandung hari Jumat pagi tanggal 3 Oktober.</p>

<p><a id="more-267"></a>
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3243/2928234493_fb888f9a84_m.jpg" width="178" height="240" alt="khalisha" /></span>Alhamdulillaah, Naila sudah berkembang semakin &#8220;dewasa&#8221;. Walaupun masih malas ketemu orang baru yang sok akrab, tapi seenggak2nya Naila sudah nggak pernah nangis2 lagi. Nggak pernah minta nge-<em>mall</em> lagi, dan nggak terus2an &#8220;mengerami telur&#8221; di kamar yang kebetulan berAC dengan alasan <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=180">ngadem</a>. Bahkan shalat Ied di masjid dekat rumah Nenek yang panasnya luar biasa pun, Naila <u>betah</u> duduk sampai ceramah yang panjangnya seperti film India itu selesai (lamaaaaaa banget ya bow!).</p>

<p>Sepertinya sih, salah satu penyebab perubahan Naila adalah karena sekarang ada adik sepupunya yang tinggal di rumah Nenek. Namanya <strong>Khalisha</strong>, anak Tante Susi dan Om Parno, umurnya hampir setahun. Waktu Khalisha baru lahir, Naila nggak pernah mau dekat2, katanya sih <em>&#8220;takut adek nangis&#8221;</em>. Dulu Naila memang kurang suka bayi kecil yang cuma bisa nangis dan nggak bisa diajak main. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, sejak Khalisha sudah bisa duduk, makan, dan diajak main, ceritanya jadi lain. Dan sejak <strong>Harits</strong>, anak Tante Nila lahir bulan Juni lalu, yang kebetulan memang nggak gampang nangis, Naila semakin suka pada bayi.</p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3071/2925152155_1f0dd5fa80_m.jpg"  alt="Naila dan Rania, sepupunya, di hari Lebaran" /></span>Diajak bersilaturahmi ke sana sini pun sudah nggak terlalu susah lagi. Ya kadang kalau rumahnya agak gelap atau <em>keueung</em> memang Naila kurang suka. Tapi kalau ada teman seumuran, dan/atau suasananya cukup nyaman, Ayahbunda sudah nggak perlu kerepotan lagi. Sip kan?</p>

<p>Jadi, bener nih, sama sekali nggak nge-<em>mall</em> selama di Jakarta?</p>

<p><em>Ya iya lah, masa ya iya dong. Neng juga Naila(h), bukan Naidong!</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=267</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>museum geologi</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=266</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=266#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 07:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebulan yang lalu Naila bersama Ayahbunda ke Museum Geologi Bandung. Waktu itu Bunda sedang bosan ke mal dan malas kena macet ke arah Lembang (pelarian Bunda kalau sedang bosan suasana kota). Nggak disangka, Naila juga antusias ketika diajak melihat2 tulang dinosaurus.</p>

<p>Lihat deh di situsnya, museum ini berisikan segala sesuatu tentang geologi Indonesia seperti bebatuan, tektonik [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>ebulan yang lalu Naila bersama Ayahbunda ke <a href="http://www.geocities.com/museumgeologi/">Museum Geologi</a> Bandung. Waktu itu Bunda sedang bosan ke mal dan malas kena macet ke arah Lembang (pelarian Bunda kalau sedang bosan suasana kota). Nggak disangka, Naila juga antusias ketika diajak melihat2 tulang dinosaurus.</p>

<p>Lihat deh di <a href="http://www.geocities.com/museumgeologi/sekilas.htm">situs</a>nya, museum ini berisikan segala sesuatu tentang geologi Indonesia seperti bebatuan, tektonik regional Indonesia, dan kegunungapian. Selain itu terdapat juga sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern. Di lantai atas terdapat maket pertambangan emas di Papua, model pengolahan dan distribusi minyak dan gas bumi, serta kegunaan geologi untuk kehidupan manusia.</p>

<p>Museum yang terletak di Jl.Diponegoro Bandung ini, di luar dugaan banyak orang, cukup bersih dan terawat. Padahal untuk mengunjunginya kita nggak perlu membayar sama sekali lho. Hebat kan!</p>

<p><a id="more-266"></a>
<span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/2807220637/" title="museumgeologi2 by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3102/2807220637_b0b6013df1_m.jpg" width="240" height="180" alt="museumgeologi2" /></a></span>Di sana Naila senang sekali melihat replika kerangka dinosaurus, lalu tulang paha gajah purba raksasa, kerangka kerbau, dan sisa2 cangkang penyu purba. Dan nggak seperti anak lain yang ngeri melihat tengkorak manusia, Naila malah lama sekali di ruangan tengkorak. </p>

<p><em>&#8220;Yang ini nggak ada giginya&#8230; yang ini giginya banyak.. Loh, Ibu Bear, kok yang ini kepalanya cuma separo?&#8221;</em></p>

<p>Yang juga menarik minat Naila adalah jenis2 bebatuan yang berwarna warni, terutama - tentu saja - yang berwarna biru muda <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Oh ya, dia juga menanyakan, kenapa ada gambar orang yang seperti monyet. Euh, perlu beli buku &#8220;Darwin for Dummies&#8221; gitu? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>

<p><span class="first">E</span>h, belum juga sebulan berselang, Naila kembali mengunjungi <a href="http://www.geocities.com/museumgeologi/">Museum Geologi</a>. Kali ini bersama rombongan dari TK Taruna Bakti. Seperti kunjungan sebelumnya, Naila tetap antusias.</p>

<p>Di awal kunjungan, rombongan di bawa ke auditorium untuk menyaksikan film singkat tentang geologi. Memang sih, anak TK pasti belum mengerti film berbahasa Inggris ini. Membaca <em>subtitle</em>nya ya sama saja, belum bisa <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Yang sempat membuat Bunda dan Ibu2 lain khawatir, film ini ditayangkan dengan suara nyaring dan ruangan super gelap. Padahal Naila kan nggak pernah mau diajak ke <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=234">bioskop</a> karena - ya itu tadi - gelap!</p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/2808069132/" title="museumgeologi4 by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3090/2808069132_7918062569_m.jpg" width="180" height="240" alt="museumgeologi4" /></a></span>Tapi apa katanya?</p>

<p>Bunda: <em>Wah Naila hebat ya, ternyata berani nonton bioskop!</em></p>

<p>Naila: <em>Kan sama teman2 sekolah, Ibu Bear. Kalo nggak sama teman2 nggak berani..</em></p>

<p>Bunda: <em>Kalau sama Bunda diajak ke bioskop liat film anak2, mau?</em></p>

<p>Naila: <em>Nggaaaaaaaaaaakkkk</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>

<p><span class="first">S</span>epulang dari museum, Naila ditanya Bude.</p>

<p>Bude: <em>Naila lihat apa di museum?</em></p>

<p>Naila: <em>Ada <strong>makhluk luar angkasa</strong> Bude, ada dua</em></p>

<p>Bude: <em>HAH?</em></p>

<p>(edit) Malamnya Bunda iseng nanya lagi.</p>

<p>Bunda: <em>Makhluk luar angkasanya seperti yang di film Lilo &amp; Stich? Matanya satu?</em></p>

<p>Naila: <em>Nggak Ibu Bear, yang di Lilo itu kan dari luar angkasa Hawaii. Yang tadi itu dari luar angkasa Indonesia.</em> </p>

<p>Bunda: <em>Iya deh..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=266</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>19 agustus</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=263</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=263#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 07:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>ilham</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tadi pagi saat mengingat tanggal, tiba2 gue teringat sesuatu. Sudah berbelas2 tahun ini gue lupa sebetulnya, dan entah kenapa tadi pagi tiba2 keingat lagi.</p>

<p>Jadi pengen ketawa&#8230;</p>

<p>Ingat apa sih?</p>

<p>Begini. Hari ini ada seorang bapak2 ulang tahun. Umurnya nggak lama lagi bakal mencapai setengah abad. Udah tua ya booooow&#8230; </p>

<p>Ya, trus? Siapa dia? Kenapa kok gue tau [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">T</span>adi pagi saat mengingat tanggal, tiba2 gue teringat sesuatu. Sudah berbelas2 tahun ini gue lupa sebetulnya, dan entah kenapa tadi pagi tiba2 keingat lagi.</p>

<p>Jadi pengen ketawa&#8230;</p>

<p>Ingat apa sih?</p>

<p>Begini. Hari ini ada seorang bapak2 ulang tahun. Umurnya nggak lama lagi bakal mencapai setengah abad. Udah tua ya booooow&#8230; </p>

<p>Ya, trus? Siapa dia? Kenapa kok gue tau ultahnya, dan kenapa gue jadi pengen ketawa?</p>

<p><a id="more-263"></a></p>

<p>Soalnya 20 tahun yang lalu gue tergila2 sama dia <img src="http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/laugh.gif" />. Namanya Rolf Magnus Joakim Larsson, tapi lebih dikenal sebagai <strong>Joey Tempest</strong>. Vokalis band rock tahun 80-an ini menjadi beken setelah merilis album <a href="http://www.youtube.com/watch?v=LpJ_phCLWQE">The Final Countdown</a> bersama band-nya, <a href="http://www.europetheband.com">Europe</a>, di tahun 1986. Ya maklum dong, walaupun kulit masih kencang dan suara masih seperti anak SMA (kata mbak <a href="http://tentangkami.wordpress.com">Indah Juli</a>, hihihihi), gue kan angkatan delapanpuluhan!</p>

<p>Kadang nggak habis pikir juga ya, karena sekarang sih kalau gue liat2, dia nggak yang cakeeeeeeeeep banget gitu <img serc="http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/blush.gif" />. Rambutnya (waktu itu) gede banget sesuai tren pada jamannya. Bodinya OKlah, tinggi-langsing-lumayan berisi. Dandanannya khas rocker delapanpuluhan yang glamor dan &#8220;tertata&#8221;, nggak <em>effortless</em> seperti rocker <em>grunge</em> tahun sembilanpuluhan.</p>

<p>Sebelum tergusur <strong>Jon Bon Jovi</strong> yang bertahan sampai gue nikah, Pak Joey ini adalah idola masa ABG gue. Yang mana gue, nggak seperti ABG pada jaman itu, lebih suka tipe2 rocker dibanding tipe boyband manis seperti Tommy Page atau Joe McIntyre. Deretan idola gue lainnya, ada <strong>Bret Michaels</strong>-nya Poison, <strong>Jani Lane</strong>-nya Warrant (woy, jeng <a href="http://babyhakunamatata.multiply.com">Ket</a> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ). Bahkan, dengan terpaksa gue harus malu2 mengakui bahwa gue pernah suka sama <strong>Mike Tramp</strong>-nya Mbak Ayu Khadijah Azhari&#8230; hihihihi&#8230;</p>

<p>Ya sud, sekarang giliran kamu. Cerita dong, siapa idola masa ABGmu! Oh ya, <em>last but not least</em>, selamat ulang tahun ya Pak Joey!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=263</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>toilet and me</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=262</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=262#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 07:07:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>ilham</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ruangan kecil yang sering nggak diperhatikan, tapi sangat amat penting. Ketidaknyamanan di ruang ini bisa menjadi &#8220;nila setitik&#8221; yang membuat penilaian gue terhadap sebuah tempat menjadi turun drastis.</p>

<p>Beberapa hari ini gue sedang memikirkan toilet. Bukan, bukan karena gue diare, na&#8217;udzubillahi min dzalik! Ini semata2 karena - terpaksa membenarkan tuduhan Aji - imajinasi gue kadang terlalu [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">R</span>uangan kecil yang sering nggak diperhatikan, tapi sangat amat penting. Ketidaknyamanan di ruang ini bisa menjadi &#8220;nila setitik&#8221; yang membuat penilaian gue terhadap sebuah tempat menjadi turun drastis.</p>

<p>Beberapa hari ini gue sedang memikirkan toilet. Bukan, bukan karena gue diare, <em>na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>! Ini semata2 karena - terpaksa membenarkan tuduhan <a href="http://apreksop.blogs.friendster.com/apreksop/">Aji</a> - imajinasi gue kadang terlalu liar. Coba, coba, apa saja yang sempat gue pikirkan seputar toilet?</p>

<p><a id="more-262"></a></p>

<ol>
<li>Di tempat umum, gue lebih suka <strong>toilet jongkok</strong> daripada toilet duduk. Karena gue nggak perlu menyentuh <em>apapun</em> yang bekas disentuh orang lain, selain kaki ketemu bekas kaki tentunya. Seandainya tersedia alas toilet duduk sekali-buang (<em>disposable toilet seat cover</em>) mungkin lain ceritanya.
<br />&nbsp;</li>

<li>Gue lebih suka toilet duduk yang <strong>genangan airnya nggak terlalu tinggi</strong>. Kan ada tuh, toilet duduk yang permukaan genangan airnya tinggi banget, nggak cuma di bagian bawah tapi juga sampai kebagian atas yang lebih besar. Kebayang nggak maksud gue? 
<br />Mungkin toilet semacam ini mempermudah pengguyuran (<em>flush</em>) ya, dan konon lebih meredam bau karena si <em>sumber bau</em> itu terendam air sepenuhnya. Tapi kalo untuk gue, toilet semacam ini menjijikkan, karena ampas metabolisme gue bakal tergenang lebih dekat. Ih!
<br />&nbsp;</li>

<li>Walaupun sempat hampir 7 tahun terpaksa hanya menggunakan kertas toilet untuk membersihkan, gue tetap lebih nyaman <strong>menggunakan air</strong> dulu sebelum dikeringkan dengan kertas toilet. Untungnya sekarang sering disediakan <em>shower</em> kecil yang juga dikenal dengan istilah <em>handheld <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bidet">bidet</a></em>. Selain merasa lebih bersih, <em>nyunnah</em>, ternyata banyak juga keuntungan <a href="http://www.bidetinternational.com/bidet_health">pembersihan</a> dengan air ini.
<br />&nbsp;</li>

<li>Di banyak negara asing, kertas toilet boleh dibuang ke dalam lubang toilet itu sendiri. Membuang di tempat sampah akan mempermudah penyebaran bakteri dan bau. Tapi di Indonesia dan banyak tempat lain malah sebaliknya, kita dilarang membuang APAPUN selain keluaran dari tubuh sendiri <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Bisa didiskusikan di <a href="http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20080116171152AA8afLh">sini</a> kalau berminat.
<br />&nbsp;</li>

<li>Sebaiknya sistem pembuangan toilet kereta api mengikuti toilet pesawat terbang, di mana pembuangan toilet ditampung dulu, sehingga nggak langsung dibuang ke rel. Tapi yang menarik, ternyata sampah cair di pesawat luar angkasa, termasuk urine alias p.i.p.i.s pun langsung <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Space_toilet">dibuang ke luar</a> lho!
</li> 

<blockquote>Solid waste is distributed in a cylindrical container which is then exposed to vacuum to dry the waste. Liquid waste is vented to space.</blockquote>

<li>Di Indonesia orang sering menganggap <strong>dudukan toilet berada di atas</strong> sebagai posisi yang wajar. Toh orang tinggal menurunkannya kalau mau menggunakan toilet sambil duduk. Padahal di Barat sana, kondisi <em>idle</em> yang ideal adalah dudukan toilet ada di bawah, lalu toilet ditutup dengan sempurna. Bahkan sampai ada pembahasan tentang bagaimana membuat para lelaki selalu <a href="http://www.celebratelove.com/littlethings.htm" title="Put the Toilet Seat DOWN!">menurunkan kembali</a> dudukan toilet setelah membuang hajatnya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .<br />&nbsp;</li>

</ol>

<p>Kamu menganggap posting tentang toilet ini aneh? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Ijinkan gue menunjukkan laman2 yang lebih &#8216;aneh&#8217;. Misalnya <a href="http://www.dasklo.net/stier_mainframe.htm">situs ini</a> (bahasa Jerman) dan blog <a href="http://b0ker.blogspot.com">b0ker</a> ini, di mana sang pemilik dengan rajinnya mengumpulkan skrinsyut dari toilet2 yang pernah dikunjunginya, dari seluruh penjuru dunia <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Atau mungkin <a href="http://losu.org/world/the-many-different-types-of-toilet-signs">blog ini</a>, yang mengumpulkan petunjuk2 toilet (<em>toilet signs</em>) yang lucu2 dan kreatif. </p>

<p>Lebih jauh lagi, gue baru tahu bahwa ada sebuah organisasi non-profit bernama <a href="http://www.worldtoilet.org/">World Toilet Organization</a> yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi toilet dan sanitasi di seluruh dunia. Ya, sudah banyak rupanya orang yang memikirkan masalah pengosongan perut, sementara sebagian lainnya masih kesulitan untuk mengisi perut.</p>

<p>Adakah hal2 yang pernah kamu pikirkan tentang toilet? Silakan dibagi di sini <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=262</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>nggak lucu lagi</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=261</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=261#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 09:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[<p>Beberapa minggu yg lalu Naila ikut ke kantor Bunda. Karena memang jarang ketemu, Naila langsung dikerubuti Tante2 dan Oom2 di sana. Padahal Naila suka males sama orang yang baru kenal tapi sok akrab. Apalagi kalau laki2, kumisan pulak  . Duh duh, musti belajar lebih ramah &#38; sopan nih Naila, jgn terlalu bergaya priyayi, hehe.</p>

<p>Pulangnya [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">B</span>eberapa minggu yg lalu Naila ikut ke kantor Bunda. Karena memang jarang ketemu, Naila langsung dikerubuti Tante2 dan Oom2 di sana. Padahal Naila suka males sama orang yang baru kenal tapi sok akrab. Apalagi kalau laki2, kumisan pulak <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Duh duh, musti belajar lebih ramah &amp; sopan nih Naila, jgn terlalu bergaya priyayi, hehe.</p>

<p>Pulangnya Naila bertanya, <em>&#8220;Kenapa ya kok pada seneng datengin Neng?&#8221;</em> 
<a id="more-261"></a></p>

<p>Bunda: <em>&#8220;Mungkin krn Naila lucu. Makanya Naila musti senyum &amp; salam sama tmn2 Bunda yaa..&#8221;</em></p>

<p><em>&#8220;Tapi Neng udah ga lucu lagi Ibu Bear, Neng sudah besar. <strong>Neng sekarang cantik, bukan lucu</strong>. Lucu itu untuk anak kecil..&#8221;</em></p>

<p><em>Gubrak</em></p>

<p>Dari mana ya dia belajar hal2 seperti ini? <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>

<p><strong>Ibu Bear?</strong></p>

<p>Siapa itu Ibu Bear? </p>

<p>Yup, sejak hampir setahun belakangan, Naila memanggil Bunda dengan sebutan Ibu Bear. Entah kenapa. Mungkin karena Bundanya ini gemuk seperti <em>Winnie The Pooh</em>, atau suka makan <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=214">salmon mentah</a> dan galak seperti beruang Grizzly. Tapi kalau menurut Naila, itu karena Naila adalah Bear si Beruang teman <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Franklin_(TV_series)">Franklin</a>. Jadi Bundanya adalah Ibu Bear, Ayah adalah Ayah Bear, dan Pakdenya adalah&#8230; <strong>Joni Bear</strong>. Entah dari mana dia menemukan nama itu.</p>

<p>Sebuah kemajuan, setelah tahun2 lalu Naila minta dipanggil <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=207">Kelinci</a>. Seenggak2nya Ibu Bear nggak harus berkuping panjang, bergigi tonggos dan makan banyak wortel seperti Ibu Kelinci <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=261</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>sekolah baru</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=260</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=260#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 09:03:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[<p>Naila sekarang bersekolah di TK Taruna Bakti. Masuk kelas TK A, mengingat umurnya skrg 4,5 thn. </p>

<p>Kenapa Ayahbunda memindahkan sekolah Naila? Karena Ayahbunda ingin sekolah yang &#8216;nyambung&#8217; terus dari TK-SMP, agar Naila nggak harus melewati segala maacm &#8216;kisruh&#8217; mencari sekolah dan tes ini-itu pada usia yang relatif muda (kalau SMA mau pindah sih, terserah, kan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">N</span>aila sekarang bersekolah di <strong>TK Taruna Bakti</strong>. Masuk kelas TK A, mengingat umurnya skrg 4,5 thn. </p>

<p>Kenapa Ayahbunda memindahkan sekolah Naila? Karena Ayahbunda ingin sekolah yang &#8216;nyambung&#8217; terus dari TK-SMP, agar Naila nggak harus melewati segala maacm &#8216;kisruh&#8217; mencari sekolah dan tes ini-itu pada usia yang relatif muda (kalau SMA mau pindah sih, terserah, kan udah gede&#8230;) Tentu saja sekolah pilihan ini harus berkualitas baik, nggak terlalu jauh dari rumah, dan biayanya masuk dalam jangkauan kami.</p>

<p>Itu alasan rasional. Kata Ayah sih, pilihan sekolah ini agak dipengaruhi alasan emosional Bunda. Maklum, lebih dari 25 tahun yang lalu Bunda juga bersekolah di sini, dari TK sampai lulus SMA <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Tentu saja kenangannya luar biasa banyak seperti yang <a href="http://www.indrani.net/blogger/2005/05/1978-1990-part-2-taruna-bakti.html">dikenang</a> <a href="http://indrani.net">Rani</a>, adik kelas Bunda.</p>

<p><a id="more-260"></a>
<span class="first">H</span>ari gini, masih saja ada yg menanyakan, <em>&#8220;Lho, Taruna Bakti kan sekolah Kristen?&#8221; </em></p>

<p>DOOOH! Gaul dong ah! <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Taruna Bakti adalah salah satu skolah swasta nasional pertama d Bandung yg menyediakan guru agama untuk agama Islam, Katholik, Protestan, Hindu &amp; Buddha  (YAP! Bahkan untuk agama2 yang pemeluknya cuma 5 orang satu sekolah). Pada masa sekolah Bunda dulu, TB digelari sekolah pembauran terbaik di Bandung, karena hampir 40% siswa yang notabene keturunan China di sini dapat membaur dengan siswa pribumi. Maklum deh, dulu di jaman Orde Baru, hal begini masih menjadi hal yang sensitif.</p>

<p><span class="shadow" style="float:right"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/2695207716/" title="seragam by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3241/2695207716_be3891ee79_m.jpg" width="180" height="240" alt="seragam" /></a></span>Bagaimana dengan Naila sendiri? Waktu ikut Bunda pendaftaran di bulan Feb (hehe, betul, Februari, dan Mei harus melunasi uang pangkal, dibayar TUNAI dan sekaligus seperti mas kawin, hahaha), Naila sepertinya masih ogah2an. Tapi di luar dugaan, sejak hari pertama N betah sekali. Ceritanya kpd bibi, <em>&#8220;Bi, skolah Neng besaaar, prosotannya gede, mainannya banyak, Neng seneng&#8221;</em>. Alhamdulillah.</p>

<p>Sejak hari pertama Naila sepertinya nggak perlu ditunggui di sekolah. Tapi pada hari pertama Ayahbunda masih menunggui di selasar depan kelas bersama para orangtua lain. Hari2 selanjutnya selama seminggu, Bibi yang menunggui dengan pintu kelas ditutup. Di minggu kedua ini, penunggu hanya boleh berada di teras, sementara pintu gerbang ditutup dan dijaga arca Dwarapala.. Eh, maksudnya dijaga satpam, hehe..</p>

<p>Jadi sekarang ritual hariannya, Naila diantar Bunda sampai ke kelas. Lalu Bibi datang mnjemput, kadang pakai angkot, dan kadang kalau Pakde nggak perlu ke kantor (maklum, Pakdenya pengacara alias Pengsiunan Banyak Acara yg masih kerja <em>part time</em>) ya sama Pakde.</p>

<p><span class="shadow" style="float:left"><a href="http://www.flickr.com/photos/dharwiyanti1/2695207502/" title="baris by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3243/2695207502_67acbbe5b4_m.jpg" width="240" height="180" alt="baris" /></a></span>Semoga harapan Ayahbunda terwujud ya Nak, dgn Naila bersekolah d sini. Naila menjadi anak yg shalih, berdisiplin (termasuk untuk datang ke sekolah jam 7 pagi), kreatif, pemberani, dan cerdas. Punya toleransi dengan tetap punya prinsip yang kuat. Semoga Naila bisa tetap berprestasi maksimal sesuai kemampuan dan nggak punya rasa minder walaupun sebagian besar teman2na berasal dari golongan yg jauh lebih berada. Insya Allah, amin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=260</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
