Berlagak Mudik: Garut

Gunung Guntur

Gunung Guntur

Keluarga kecil saya cukup beruntung karena tak punya kewajiban mudik Lebaran. Mengingat saya tinggal bersama orang tua, perjalanan terjauh untuk bermaaf-maafan adalah ke rumah mertua di Jakarta. Orang lain pulang ke udik, kami pergi  ilir. Nikmatnya.

Tapi mengingat libur Lebaran adalah waktu di mana kami semua tidak punya kewajiban ngantor atau sekolah, rasanya kok sayang kalau nggak dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Setelah pikir-pikir bersama Abang, pilihan jatuh ke Garut.

Baru belakangan saya tahu bahwa Abang sebenarnya sempat mikir, “Iseng amat sih Neng ngajak ke Garut. Udah tau macet gitu.” Mungkin kamu juga berpikir begitu. Tapi sumpah, kami nggak menyesal sama sekali! Yang penting sempatkan untuk reservasi hotel, karena walaupun harga kamar bisa dua kali lipat tarif weekend biasa, tetap saja kamar hotel laris seperti kacang goreng saat libur Lebaran begini. Juga mempersiapkan itinerary yang cukup detil, lengkap dengan Plan B dan Plan C-nya. Namanya juga libur Lebaran, segalanya menjadi unpredictable kan?

Sambel Hejo Cibiuk

Sambel Hejo Cibiuk

Day 1

Kami berangkat dari Bandung hari Jumat jam 6 pagi. Di luar dugaan, lalu lintas lancar pagi itu. Jam 7.15 kami sudah sampai Kadungora. Niatnya sih mau ke Taman Satwa Cikembulan, tapi karena sepagi itu belum buka, kami akhirnya melanjutkan perjalanan untuk sarapan dulu di Rumah Makan Sambel Cibiuk, nggak jauh dari pertigaan ke Cipanas Garut.

Puas sarapan, kami menuju Cipanas, desa yang terkenal dengan air panasnya, hence the name. Tapi tak seperti saat saya mengunjungi Cipanas beberapa kali sebelumnya, kali ini Cipanas penuh sesak! Kami dapat parkir di ujung desa, itupun dengan tarif parkir (gelap) yang hampir seharga tiket masuk kolam renang. HUH!

Tadinya kami berencana menginap di Kampung Sumber Alam, resort favorit saya di Cipanas Garut ini. Resort ini sangat bernuansa tradisional Sunda, dengan bungalow-bungalow di atas kolam. Malam hari, saat lampu-lampu dinyalakan, terlihat jelas asap tipis keluar dari kolam yang ditumbuhi kumpulan teratai. Cantik banget!  Tapi mengingat harganya yang di luar batas anggaran, akhirnya kami memutuskan untuk berenang saja di Cipanas. Pilihan jatuh pada kolam di Hotel Tirtagangga.

Sentra Kerajinan Kulit Sukaregang

Setelah makan siang dan menunggu Abang shalat Jumat, kami menuju pusat kota Garut untuk wisata belanja, hehe. Tujuan pertama adalah ke Sukaregang, kawasan kerajinan kulit di Jalan Ahmad Yani, sekitar 2 km dari Masjid Agung ke arah timur. Di sana banyak toko baik besar dan kecil yang menjual jaket, tas, sepatu, dompet, dan sejenisnya. Toko terbesar adalah Astiga (“Asli ti Garut”, hehehe..) yang memiliki koleksi jaket kulit lumayan lengkap. Harganya berkisar antara 700 ribu sampai dua juta rupiah. Mahal? Kalau menurut saya sih di Bandung harganya bisa 1,5 kali lipatnya.

Karena kurang berminat membeli jaket, kami ke Sentra Kerajinan Kulit tak jauh dari situ. Tempatnya nyaman dan barangnya murah-murah. Saya dapat sepasang sepatu flats seharga 60 ribu rupiah.

Kampung Sisir

Dari sana saya langsung gelisah ingin cari batik Garutan. Saya suka warna warninya yang cerah dan motifnya yang geometris. Setelah browsing-browsing, saya memutuskan untuk ke Gang Kampung Sisir di ujung utara Jalan Ciledug. Masuk sekitar 100 meter, ada sebuah rumah yang memasang plang “Batik Tulen”. Tak hanya batik cap, rumah merangkap toko ini juga menyediakan batik semi tulis dan batik tulis. Batik cap dihargai mulai 60 ribu rupiah, sementara batik tulis yang halus bisa mencapai harga  di atas satu juta rupiah.

Agar tak makin kalap, setelah membeli beberapa potong kain batik untuk bertiga, kami menuju hotel Bintang Redannte (+62 262 4704647). Letaknya di Jalan Raya Samarang, namun masih di dalam kota Garut, tak jauh dari Kantor Bupati dan perlimaan Tarogong. Walaupun tanpa kolam renang, namun fasilitas hotel ini cukup memadai dengan air panas, TV satelit dan AC. Recommended deh!

Makin sore terlihat kemacetan makin mengular di depan hotel. Setelah maghrib kami kembali ke pusat kota Garut. Tujuannya tentu untuk makan malam. Brrrrrr, kota yang kalau siang hari panas banget ini, ternyata dingin banget kalau malam hari! Jadilah saya yang paling saltum, makan kupat tahu di Pasar Ceplak sambil kedinginan. Pasar Ceplak adalah seruas Jalan Siliwangi yang ditutup untuk mobil dan dipenuhi penjaja makanan di kiri kanannya. Kali ini kami mencoba kupat tahu yang mirip-mirip kupat tahu Gempol di Bandung. Enak banget dan porsinya jumbo, hehehe..

Ternyata para pemudik (plus orang-orang yang iseng berlagak mudik macam kami bertiga) masih memenuhi Garut hingga larut malam. Niat belanja oleh-oleh di Dodol Picnic Jalan Ciledug pun batal karena antrian kasirnya sudah mencapai dinding belakang toko. Kemacetan mulai terasa sampai ke pusat kota Garut. Konon ini disebabkan arus balik dari arah Tasikmalaya yang biasanya melewati Malangbong menuju Nagrek lalu Bandung, dialihkan menjadi lewat Garut. Kami lalu memutuskan untuk kembali ke hotel.

Day 2

Hotel Bintang Redannte

Hotel Bintang Redannte

Pagi setelah sarapan, kami belanja oleh-oleh di daerah Tarogong. Kemacetan tampak mulai cair. Di daerah Tarogong yang merupakan pintu kota Garut sebelah utara ini ada beberapa pilihan tempat belanja oleh-oleh, seperti Pujasega (semacam pusat jajanan yang juga menjual oleh-oleh) dan GSC (Garut Souvenir Center). Pilihan kami jatuh pada D’jieun Tjokelat dengan produk unggulannya chocodot alias cokelat isi dodol. Produk favorit saya dark chocolate isi kopi, yang dikemas kecil-kecil seruas jari, lalu dijual dalam tabung kecil semacam tempat merica bubuk.

Lepas dari Tarogong kemacetan dimulai lagi. Dari persimpangan Cipanas sampai ke Alun-alun Leles yang hanya berjarak sekitar 10 km harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Hampir sama seperti orang jalan kaki ya!

Rakit di Situ Cangkuang

Rakit di Situ Cangkuang

Di Leles kami membelok ke arah timur menuju Candi Cangkuang. Letaknya di tengah-tengah danau bernama Situ Cangkuang. Di pulau yang sama terdapat sebuah perkampungan adat bernama Kampung Pulo, dan makam leluhur setempat bernama Arif Muhammad.

Untuk menyeberangi danau, kami menggunakan rakit bersama-sama dengan pengunjung lain dengan tarif 4000 rupiah per orang untuk pulang-pergi. Kalau sedang sepi seperti ketika Bapak saya ke sana, orang harus memborong satu rakit dengan harga yang cukup enak. Enaknya dia aja maksudnyaaaaa!!!!

Candi Cangkuang sendiri baru ditemukan tahun 1966, dan rekonstruksinya selesai di akhir tahun 70-an. Bentuk candi yang terlihat sekarang ini adalah hasil rekayasa rekonstruksi, sebab bangunan asli yang ditemukan di situs ini  hanyalah sekitar sepertiganya. Entah bagaimana bentuk bangunan asli candi ini sebenarnya.

Kampung Pulo, perkampungan adat yang juga terletak di pulau ini ternyata hanya terdiri dari 6 buah rumah dan satu buah masjid. Bentuk rumah-rumahnya seragam dan rapi. Jika sebuah keluarga penghuni rumah adat ini memiliki lebih dari satu orang anak, hanya satu anak yang boleh tinggal di rumah tersebut. Sisanya harus pindah, keluar dari Kampung Pulo.

Kampung Pulo

Kampung Pulo

Candi Cangkuang

Candi Cangkuang

Dari Cangkuang kami ke Taman Satwa Cikembulan yang masuk wilayah Kadungora. Ogah lewat jalan raya karena macet berat, saya mengandalkan Google Map di smartphone untuk mencapai lokasi tersebut lewat jalan-jalan desa. Mantap banget ternyata, sampai jalan selebar satu mobil saja ada lho!

Taman satwa ini ramai sekali. Dengan harga tiket yang cuma 12 ribu rupiah, kita bisa menikmati ratusan satwa di sana. Mulai berbagai jenis burung, monyet, macan, beruang, dan juga reptil.

Parrot in 69

Parrot in 69

Taman Satwa Cikembulan

Taman Satwa Cikembulan

Menjelang tengah hari kami meninggalkan Kadungora. Alhamdulillaah jalan lingkar Nagrek sedang dibuka, sehingga perjalanan lancar sampai ke Bandung.

Memang masih banyak yang belum kami kunjungi di daerah yang sering disebut sebagai “Swiss van Java” ini, misalnya Kawah Darajat dan kolam renangnya yang berpemandangan spektakuler, juga Kawah Papandayan yang kekuningan meletup-letup, Curug Orok, Pantai Santolo dengan aqueduct-nya, dan sebagainya.

Diantos deui di Garut!

Diantos deui di Garut!

One Response to Berlagak Mudik: Garut

  1. wah..perjalan yang asyik ya….
    silahkan berkunjung garut lagi ya,,,,,,diantos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>